Abadi dalam Tulisan

Math Homework in NotebookAdakah di antara kita yang pernah bertemu dengan Imam Syafi’ie, Al–Bukhari, atau Ibnu Hisyam? Saya yakin tidak ada. Kita dan mereka berbeda zaman. Kita lahir jauh setelah masa mereka pun terlahir di belahan bumi yang berbeda dengan mereka akan tetapi sebagian besar dari kita mengenal Imam Syafi’ie, Al–Bukhari, dan Ibnu Hisyam. Kita mengenal mereka bukan dari wajahnya, tubuhnya, ataupun suaranya. Kita mengenal mereka melalui tulisannya.

Wajah, tubuh, dan suara mereka telah terkubur ratusan tahun silam tetapi pemikiran mereka masih tetap hidup hingga saat ini, bahkan mungkin hingga ratusan tahun ke depan. Meski umur Imam Syafi’ie telah berakhir bersamaan dengan ajalnya ratusan tahun silam namun beliau tetap “hidup” dalam kitab Al–Umm hingga saat ini. Beliau masih tetap “mengajar” di berbagai pesantren dan forum–forum ta’lim hingga saat ini melalui tulisan beliau. Beliau tetap menginspirasi jutaan Muslim di dunia melalui tulisannya.

Hal yang sama terjadi pada imam Al–Bukhari, sang ahli hadits yang super teliti. Meski raga beliau telah terkubur atau bahkan mungkin telah menyatu dengan tanah sejak ratusan tahun silam, beliau tetap “hidup” dalam karya fenomenalnya Shahih Bukhari. Melalui tulisannya beliau tetap memandu ummat Islam dalam mempelajari hadits. Beliau tetap dapat membantu para mujtahid dalam berijtihad melalui tulisannya.

Demikian pula dengan Ibnu Hisyam. Jasadnya telah lama terkubur di dalam tanah akan tetapi beliau tetap “hidup” dalam master piece–nya Shirah Nabi paling lengkap sepanjang sejarah. Melalui tulisannya itu Ibnu Hisyam tetap fasih mengisahkan babak demi babak perjalanan hidup Rasulullah kepada para pencari ilmu. Ratusan tahun telah berlalu sejak kematiannya, tetapi Ibnu Hisyam tetap “hidup” di tengah kita, “mendampingi” kita menapaki jejak–jejak perjuangan Rasul.

Tulisan telah membuat Imam Syafi’ie, Al–Bukhari, dan Ibnu Hisyam tetap “hidup” melampaui umur biologisnya. Mereka “abadi” dalam tulisannya. Melalui tulisannya, amal shalih beliau terus mengalir meski raganya tak lagi mampu berbuat apa–apa. Betapa inginnya aku mendapat ni’mat seperti mereka: hidup “abadi” melampaui umur biologisnya. Tetap beramal shalih meski raga ini tak lagi berwujud. Dan hingga saat ini aku hanya menemukan satu cara untuk dapat meraih keni’matan itu: dengan menulis. Menuliskan al–haq!

Ya Rabb…
Tuntun jemariku untuk menuliskan al–haq, dan hanya al–haq yang terangkai dari tarian jemariku hingga ni’mat “keabadian” amal shalih dapat ku raih…

Yogyakarta, 23 Shafar 1434 H
Friday, January 04, 2013
7.41 p.m.

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s