Menghentikan Penyalahgunaan NARKOBA

Menghentikan Penyalahgunaan NARKOBA

NARKOBAPenangkapan Raffi Ahmad menambah panjang daftar anak bangsa yang terjerumus ke jurang penyalahgunaan NARKOBA. Jumlah pecandu NARKOBA di negeri ini memang sangat memprihatinkan. Menurut data BNN, tren jumlah pecandu NARKOBA dari tahun ke tahun selalu mengalami kenaikan, bahkan hasil survey BNN bekerja sama dengan Puslitkes UI memproyeksikan pada tahun 2015 jumlah pecandu NARKOBA bisa mencapai 5,6 juta. Hal ini tentu menjadi keprihatinan banyak pihak.

Banyaknya pecandu NARKOBA menunjukkan banyaknya produksi dan pengedarnya. NARKOBA ini unik, tidak seperti komoditas dagangan lainnya yang mengikuti hukum “adanya permintaan akan mendorong adanya produksi dan distribusi” karena NARKOBA bukanlah kebutuhan sebagaimana beras, pun bukan keinginan seperti cokelat. Tidak ada orang yang secara sadar merasa menginginkan apalagi membutuhkan NARKOBA. Mereka yang merasa membutuhkan NARKOBA hanyalah mereka yang telah terlanjur kecanduan.

Pasar NARKOBA itu diciptakan oleh produsen, bukan sebaliknya munculnya produsen karena adanya pasar. Dan rupanya pemerintah sengaja membiarkan produsen NARKOBA terus menciptakan pasarnya di negeri ini. Alih–alih memberikan hukuman seberat–beratnya kepada para pengedar NARKOBA, pemerintah malah “memelihara” mereka. Masih segar di ingatan kita, November tahun lalu Presiden memberikan grasi kepada Ola, bandar NARKOBA internasional yang ternyata diketahui masih tetap menjalankan bisnis haramnya dari balik jeruji penjara. Kasus Ola bukanlah grasi pertama, sebelumnya telah banyak bandar NARKOBA yang juga “dipelihara”.

Akibatnya, pengedar NARKOBA tidak pernah jera dan justru semakin gigih mencari pangsa pasar baru untuk mengembangkan bisnis haramnya karena menjanjikan keuntungan yang sangat besar. Inilah faktor—di samping rapuhnya ketaqwaan seseorang dan didukung oleh lemahnya kontrol orangtua serta masyarakat—yang membuat semakin banyak anak negeri yang terperangkap dalam jurang kelam ketergantungan NARKOBA dan terpaksa kehilangan masa depannya.

Kampanye anti NARKOBA yang gencar diserukan tidak akan banyak berarti tanpa dukungan nyata pemerintah berupa ketegasan sikap kepada para pengedar yang diwujudkan dengan pemberian hukuman yang seberat–beratnya kepada mereka. Selain itu, pemerintah juga perlu memberikan hukuman tegas kepada mereka yang dengan sengaja menyalahgunakan NARKOBA. Diakui atau tidak, banyaknya orang yang tergoda untuk mencoba hingga akhirnya menjadi ketergantungan NARKOBA adalah karena selama ini para pecandu NARKOBA selalu dianggap sebagai sebagai korban, bukan pelaku tindak kriminal. Anggapan tersebut membuat para pelaku penyalahgunaan NARKOBA tidak merasa bersalah karena toh—menurut mereka—yang dikorbankan adalah diri mereka sendiri, padahal sejatinya perilaku mereka telah membuat masyarakat kehilangan SDM–SDM yang mampu membangun negeri ini jika saja tidak tergelincir dalam jurang penyalahgunaan NARKOBA.

Oleh karenanya, pemerintah harus segera bersikap tegas baik kepada produsen, pengedar, maupun pelaku penyalahgunaan NARKOBA. Tanpanya, upaya pemberantasan penyalahgunaan NARKOBA hanyalah mimpi.

Jombang, 2 Rabii’uts Tsani 1434 H
Monday, February 11, 2013
8.57

Haafizhah Kurniasih
Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s