Memuliakan Perempuan Tanpa Masalah

akhawatMemuliakan Perempuan Tanpa Masalah

Perempuan seolah tak pernah lepas dari sorotan. Masalah demi masalah tak henti menimpa perempuan. Ketertindasan dan keterbelakangan adalah masalah klasik yang harus dihadapinya. Berbagai pihak telah berupaya menawarkan solusi, tetapi nyatanya hingga saat ini perempuan masih tetap menjadi sorotan karena beragam permasalahan yang menderanya. Banyak pihak mengira sebabnya adalah karena perempuan diposisikan sebagai warga kelas dua karena faktanya pada era penjajahan perempuan adalah warga kelas dua dan saat itu perempuan tertindas lagi terbelakang. Menurut mereka, salah satu penyebab perempuan menjadi warga kelas dua adalah karena perempuan tidak memiliki kemandirian ekonomi yang disebabkan terbatasnya kesempatan kerja bagi perempuan dan rendahnya partisipasi perempuan di ruang publik.

Maka, mereka pun menawarkan solusi berupa kesetaraan gender. Berbondong–bondonglah orang menjadi pejuang emansipasi. Mereka menuntut perempuan diperlakukan sama sebagaimana laki–laki. Mereka menuntut agar perempuan diberi kesempatan yang sama untuk berkiprah di ruang publik dan melakukan aktivitas ekonomi yang dengannya perempuan dapat memiliki kemandirian ekonomi sehingga tak lagi menjadi warga kelas dua. Mereka pun mendorong para perempuan untuk mengejar karir, bersaing dengan laki–laki.

BERNAS 7-8 Maret 2013
Alih–alih menjadi solusi untuk mengangkat derajat perempuan dan menyejahterakannya, ide kesetaraan gender ini malah menimbulkan masalah baru yang tak kalah peliknya. Bersamaan dengan berbondong–bondongnya perempuan bersaing dengan laki–laki di ruang publik, laki–laki tidak lagi merasa bertanggung jawab untuk menyejahterakan perempuan dan turut menuntut perempuan menyejahterakan dirinya sendiri dengan bekerja.

Akhirnya perempuan justru tereksploitasi demi kepentingan ekonomi para kapitalis. Lihatlah berapa juta perempuan—bahkan kaum ibu—yang terpaksa harus meninggalkan rumah dan kehangatan keluarganya bertahun–tahun untuk menjadi buruh migrant beserta kisah duka di baliknya (pemerkosaan, penganiayaan, hingga hukuman mati). Tak hanya buruh migrant, perempuan yang bekerja di dalam negeri pun banyak menyimpan kisah duka. Karena tuntutan ekonomi, banyak yang mengalami kekerasan, pelecehan seksual, hingga women trafficking.

Tak hanya perempuan yang menderita akibat ide kesataraan gender ini. Anak–anak pun kehilangan haknya untuk menikmati hangatnya kasih sayang dan perhatian penuh dari sang ibu karena sang ibu harus menghabiskan waktu dan energinya untuk mengais rupiah. Bahkan, kesetaraan gender berpotensi menghancurkan bangunan keluarga mulai dari anak–anak yang kurang kasih sayang dan mencari perhatian dengan melakukan kenakalan remaja hingga istri yang merasa tidak butuh suami sehingga tidak menghormatinya. Akhirnya, keluarga pun tak lagi menjadi tempat paling nyaman.

Kesetaraan gender bukanlah solusi justru menimbulkan banyak masalah baru karena lahir dari kesalahan pandangan kapitalistik yang menakar segala sesuatunya dengan materi. Sesungguhnya solusi untuk mengangkat derajat perempuan adalah dengan mengembalikan perempuan ke posisinya sebagai ibu, sekolah pertama bagi anak–anaknya, dan partner yang handal bagi suaminya. Perempuan memang harus mendapatkan akses pendidikan yang sama dengan laki–laki karena dia harus mendidik anak – anaknya menjadi anak–anak yang cerdas dan unggul. Dia pun harus menjadi partner yang hebat bagi suaminya, tempat bertukar pikiran menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Adapun kewajiban menyejahterakan keluarga tetap ada di pundak laki–laki. Dengan demikian, laki–laki pun akan menghargai perempuan dan perempua tetap menghormati laki–laki karena keduanya saling membutuhkan.

Jombang, 24 Rabi’uts Tsani 1434 H
Wednesday, March 06, 2013
11.43 a.m.

Khafidoh Kurniasih., S.Farm
Aktivis Muslimah HTI