Ngomong Dong… Ngomong!!

NgomongNgomong Dong… Ngomong!!

Seringkali ketika kita dengan lantang memaparkan kebobrokan sistem kapitalisme demokrasi dan menggambarkan keagungan sistem Islam, ada yang kemudian menimpali “Jangan cuma ngomong doank… Ayo dunk lakukan sesuatu!”. Tak jarang orang–orang sok bijak ikut menimpali “Dari pada terus menerus mengutuki kegelapan, lebih baik kita menyalakan sebuah lilin!”. Seolah–olah ngomong, berkata–kata, berwacana, beropini itu adalah suatu tindakan kesia–siaan. Benarkah anggapan tersebut?

Benar bahwa sebagian besar masalah tidak akan bisa terselesaikan hanya dengan kata–kata atau sekadar wacana. Perlu aksi yang lebih dari itu. Akan tetapi, perlu diingat bahwa sering kali kata–kata adalah awal dari segala penyelesaian karena berawal dari omongan kita bisa mengetahui masalah apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana jalan keluarnya. Kata–kata yang penuh ilmu akan menyadarkan dan menginspirasi orang lain untuk bergerak menyelesaikan permasalahan. Ingatkah kita pada guru–guru kita di sekolah? Apa tugas utama mereka? Ya, mengajar: ngomong, berkata–kata dengan ilmu kepada para murid. Coba ingat, ketika guru kita menerangkan tentang tentang tekanan air yang berbanding lurus dengan kedalamannya (semakin dalam, semakin besar tekanannya) sehingga bendungan bagian bawah harus lebih tebal dari pada bagian atas, apakah beliau benar–benar membangun bendungan? Tentu saja tidak, beliau hanya berkata–kata berdasarkan ilmu yang beliau milik. Ya, hanya sekadar berkata–kata berdasarkan ilmu. Tetapi berangkat dari kata–kata beliau, kelak di kemudian hari beberapa orang murid menjadi ahli teknik sipil yang membangun bendungan berdasarkan perkataan beliau.

Ya, dalam kehidupan ini memang ada pembagian peran karena ada begitu banyak peran yang harus dijalani dalam kehidupan ini yang tidak mungkin bagi seseorang untuk menjalani semuanya. Maka, setiap orang harus memilih satu atau beberapa peran untuk dijalani secara maksimal. Perlu diingat pula, setiap peran memiliki kontribusinya masing–masing bagi kehidupan. Kita tidak berhak merasa paling berjasa bagi kehidupan karena peran yang kita pilih, apalagi menganggap remeh peran yang dipilih oleh orang lain.

Para dokter boleh saja merasa berjasa karena merekalah yang berada di garis depan dalam mengobati pasien, tapi coba ingatlah dari mana mereka mendapatkan ilmu untuk mengobati pasien? Bukankah dari “tukang ngomong” yang telah rela berbagi ilmu kepada para murid / mahasiswanya? Para apoteker boleh saja merasa berjasa karena merekalah yang bisa membuat obat, tapi coba ingatlah dari mana mendapatkan ilmu untuk dapat membuat obat? Bukankah dari para guru dan dosen yang peran terbesarnya adalah ngomong? Para engineer boleh saja merasa berjasa karena merekalah yang membuat pesawat terbang, membangung gedung–gedung pencakar langit, membangun jemabatan yang menghubungkan antar pulau, tetapi coba ingat lagi bukankah sebelum mereka sampai pada titik itu, mereka harus menjalani serangkaian proses pembelajaran yang diajar oleh para “tukang ngomong”? Kita sama sekali tidak bisa meremehkan mereka yang mengambil peran lebih banyak untuk berkata–kata, berwacana, ngomong. Sama sekali tidak karena terbukti tanpa mereka tak akan pernah ada para dokter, apoteker, engineer, akuntan, ekonom, dan lain–lain yang secara langsung berperan dalam menyelesaikan berbagai problem kehidupan.

Demikian pula dengan pengemban da’wah. Pengemban da’wah adalah ibarat guru bagi masyarakat. Tugas utama mereka adalah ngomong, berwacana, berkata–kata berdasarkan ilmu, menyadarkan masyarakat apa yang seharusnya mereka lakukan. Menyadarkan para politisi agar mereka dapat berpolitik sesuai Islam, menyadarkan para ekonom agar menjalankan sistem ekonomi Islam, menyadarkan para pemimpin agar memimpin sesuai tuntunan Islam dan seterusnya. Tugas utama mereka adalah mengajar, ngomong berdasarkan ilmu. Sebagaimana kita tak dapat menuntut guru untuk membangun bendungan, membuat obat, mengobati orang sakit atau pun membuat pesawat terbang meskipun beliau mengajarkan teori tentang semua itu. Kita pun tak bisa menuntut pengemban da’wah untuk melakukan sendiri apa yang mereka wacanakan. Ketika mereka mewacanakan tentang hudud, bukan berarti mereka sendiri yang harus melaksanakan hudud bagi para pelaku criminal, ketika mereka menyerukan keharaman privatisasi sumber tambang, bukan berarti harus dengan tangan mereka sendiri yang mengusir Freeport dari tanah Papua. Sekali lagi, ini adalah masalah pembagian peran dalam kehidupan.

Pengemban da’wah tak mungkin dapat melakukan semua itu dengan tangannya sendiri akan tetapi mereka harus tetap menyampaikan semua itu karena kewajiban orang yang dititipi ilmu adalah menyampaikan, mengajarkan. Ditambah lagi kewajiban bagi seorang Muslim adalah menyampaikan Islam secara utuh, apa adanya dan tidak boleh memilih–milih. Bukan dengan alasan kita belum mampu mewujudkannya, kita tidak menyampaikannya. Walaupun kita belum mampu mewujudkan, kita tetap harus menyampaikan, siapa tahu di antara sekian banyak orang yang mendengarkan penyampaian kita, ada yang mampu mewujudkannya. Akan tetapi, tentu saja harus diiringi upaya semaksimal mungkin untuk melakukan apa yang telah kita katakan. Jika apa yang kita sampaikan itu berada dalam kemampuan kita untuk melakukan, ya kewajiban kita melakukan dan menyampaikan.

Maka, ngomong dong… ngomong! Tak perlu ragu untuk berkata berdasarkan ilmu, menyampaikan apa pun yang kita ketahui meskipun kita tidak mampu melakukannya karena itu adalah kewajiban.

Tegal, 18 Jumadil Awwal 1434 H
Friday, March 29, 2013
8.13 p.m.
Menunggu jemputan travel yang akan membawaku kembali ke Yogyakarta

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s