Jilbab Kejar Tayang

Jilbab Kejar Tayang

Jilbab FifiAku bertemu dengannya untuk yang pertama kali pada Agustus 2007 saat kami sama–sama menjadi mahasiswi baru FMIPA UNDIP Semarang. Awalnya aku tak merasa ada yang istimewa dengannya, kecuali tinggi badannya mungkin. Just an ordinary girl. Aku pun tak pernah ada niatan untuk mengenalnya lebih dekat. Tetapi qadha ALLAH berkata lain. Dengan skenarionya, ALLAH menjadikan kami dekat. Dimulai dengan kos kami yang ternyata bersebelahan. Aku di Perumda Tembalang Baru 51 sedangkan dia di Perumda Tembalang Baru 50. Ditambah dengan “budaya” ospek di kampus kami yang dilaksanakan selama satu semester penuh. Dua hal itu membuat kami sering bersama.

Ooh iya, aku belum memperkenalkannya. Panggil saja dia Yuli, seorang perempuan jagoan yang terbiasa mandiri. Ternyata kami juga mempunyai kegemaran yang sama: berjalan kaki meski jarak yang ditempuh cukup jauh. Alasannya pun sama: kami tidak suka menunggu. Perlu sedikit ku informasikan, saat itu kami sama–sama tidak difasilitasi kendaraan oleh orang tua kami dan satu – satunya pilihan kendaraan yang ada hanyalah angkot. Tetapi sayangnya jumlah armada angkot yang tersedia sangat terbatas sehingga waktu tunggunya lama. Pun kalau sudah naik ke dalam angkot, tidak ada jaminan angkot langsung bejalan. Sering kali harus ngetem sambil menunggu sampai penumpang penuh. Itu sangat menjenuhkan bagi kami. Dari pada kami berdiri di pinggir jalan menunggu angkot yang enatah berapa lama lagi akan lewat, mending kami menunggu sambil berjalan dan sering kali angkot baru lewat setelah kami menempuh setengah perjalanan atau bahkan sudah hampir sampai. Karena alasan itulah kami lebih senang berjalan kaki dari kampus ke kos daripada naik angkot, apalagi semenjak kami menemukan jalan alternatif yang indah. Jalan yang kami lalui itu adalah jalan menuju perumahan Diponegoro, di sisi kanan kiri jalanan itu ditumbuhi bunga–bunga yang indah, udaranya pun masih bersih.

Kebiasaan berjalan kaki bersama setiap hari dari kampus ke kos yang jaraknya sekitar 2km dan waktu tempuh sekitar 30 menit menjadikan kami semakin akrab dari hari ke hari. Sepanjang perjalanan kami membicarakan banyak hal dan yang paling sering kami diskusikan adalah tentang Islam; mulai dari fiqh ibadah hingga politik dan negara. Meski saat itu Yuli bukan akhawat ngaji, dia sangat antusias jika mendiskusikan tentang Islam. Dia pun sering meminta ikut jika aku akan mendatangi forum–forum kajian keislaman.

Suatu hari kami mendiskusikan tentang aurat dan pakaian muslimah. Yuli adalah tipe orang yang kritis, dia tidak begitu saja menerima “ini adalah perintah ALLAH” tanpa dalil dan penjelasan yang memuaskan. Saat itu ilmuku masih sangat sedikit, jauh dari cukup untuk bisa memberikan penjelasan yang memuaskan otak kritisnya Yuli. Aku pun mencari cara agar dia mendapatkan penjelasan yang memuaskan. Aha… ALLAH memberikan jalan itu melalui sebuah toko buku Islam di salah satu gang kecil di Jalan Perumda Tembalang Baru. Toko Buku Cordoba namanya. Oh iya, ternyata kami juga sama–sama penggila buku. Maka, sering sekali sepulang kuliah kami mampir ke toko buku yang terpencil itu. Sekadar melihat–lihat judul dan resensi buku yang ada, atau bahkan numpang membaca.

Aku mempunyai misi khusus setiap kali berkunjung ke Cordoba: mencari buku yang menjelaskan tentang jilbab untuk ku rekomendasikan kepada Yuli. Di antara tumpukan buku berdebu (karena lama tidak laku), ada sebuah buku kecil yang ku cari: penjelasan tentang jilbab. Aku baca resensinya, ku baca daftar isinya, dan aku baca definisi jilbab yang tertulis di sana. Sekadar memastikan bahwa buku tersebut benar–benar membahas tentang jilbab, bukan sekadar membahas aurat dan kerudung. Setelah aku yakin itu adalah buku yang membicarakan tentang jilbab dengan definisi yang benar, aku tunjukan buku tersebut kepada Yuli. Aku ingat betul Yuli begitu antusias membacanya. Dia sampai duduk bersila di lantai Cordoba untuk membacanya sampai khatam. Hari itu lama sekali kami di Cordoba. Bayangkan saja Yuli membaca buku tersebut sampai khatam!

Yuli adalah perempuan yang hanif, dia fair. Tidak suka mencari beragam pembenaran atas keinginannya, apalagi sekadar untuk mempertahankan ego intelektual. Tidak! Yuli tidak seperti itu. Jika dia menemukan penjelasan yang memuaskan akalnya, dia akan tunduk menerimanya. Termasuk dalam masalah jilbab ini. Yuli tidak seperti kebanyakan perempuan yang berfikir seribu kali untuk memutuskan berjilbab. Dia tidak mencari seribu alasan untuk menunda pelaksanaan kewajiban berjilbab. Tidak dengan alasan nanti setelah menikah, nanti setelah lulus, nanti setelah semester baru, atau alasan lainnya. Setelah akalnya terpuaskan dengan penjelasan tentang jilbab, dia segera berbenah. Menyisihkan sebagian uang bulanannya untuk membeli kain dan dijadikan jilbab. Kain yang dia beli pun bukan kain mahal, hanya kain kiloan!

Singkat cerita, dengan uang yang dipunyainya Yuli bisa membeli kain untuk membuat satu jilbab dan menyambung jilbab pemberian dari salah seorang saudari. Sehingga total jilbab yang Yuli miliki adalah dua lembar. Oiya, Yuli memiliki tubuh yang tinggi, mencapai lebih dari 170 cm sehingga tidak ada yang bisa menghibahkan jilbab siap pakai untuknya, harus disambung terlebih dahulu, termasuk aku. Jilbab yang jika aku pakai bisa menyapu lantai, ketika Yuli pakai hanya sebetis. Selama beberapa bulan Yuli bertahan dengan dua lembar jilbab itu.

Sejak Yuli berjilbab, kami menjadi jarang pulang bersama dengan berjalan kaki. Awalnya aku biasa–biasa saja, tidak merasa ada yang janggal, apalagi istimewa. Namun lama–lama, aku penasaran juga dengan perubahan kebiasaannya. Aku pun menanyakan kenapa dia jarang berjalan kaki. Ternyata jawabannya sungguh mengejutkan “Iya, soalnya kan jilbabku kejar tayang”. Aku sempat bingung apa maksudnya. Kemudian dia menjelaskan bahwa karena jilbabnya hanya ada dua, maka dia harus segera mencuci jilbab yang baru dia pakai. Selama jilbab itu dijemur, dia pakai jilbab yang satu lagi, dan seterusnya. Jika dia memilih berjalan kaki, dia khawatir energinya tidak cukup untuk mencuci setiap hari, sehingga dia memilih naik angkot. Sempat aku tanyakan kenapa dia tidak meminta tambahan uang dari orang tuanya sekadar untuk membeli beberapa lembar jilbab karena toh aku tahu dia berasal dari keluarga yang berkecukupan. Namun apa jawabnya? Dia mengatakan “Aku yang memilih untuk berhijrah, maka aku yang harus memenuhi kebutuhan hijrahku, bukan ayahku.”. Dia pun melanjutkan bahwa bukan masalah kalau dia hanya punya dua lembar jilbab yang karenanya dia harus mencuci setiap hari sekadar untuk dapat mengenakan jilbab esok harinya karena toh pada zaman kekhilafahan dulu ada seorang gubernur yang pakainnya juga “kejar tayang” seperti dirinya. “Kepala daerah lho ya… Lha, aku ini siapa?”. Masyaa ALLAH… aku tertohok mendengar jawaban–jawabannya.

Jawaban–jawaban Yuli sukses membuatku malu ketika melihat tumpukan jilbab di lemari pakaianku. Hampir semua warna aku punya kecuali hitam. Sampai–sampai seorang saudari pernah berseloroh “Kalau akan mengadakan acara, tak perlu pusing memikirkan dress code panitia warna apa. Semua warna Fifi punya, siap dipinjam!”. Ya, jilbabku sangat banyak, tidak sebanding dengan kesederhanaan Yuli. Sejak mendengar penuturan Yuli hingga beberapa tahun setelahnya seingatku aku hanya satu kali membeli jilbab, itu pun jilbab hitam karena tuntutan kebutuhan “dress code” sejumlah acara dan masyirah. Selebihnya adalah jilbab pemberian orang tuaku yang tidak bisa aku tolak.

Aaah… betapa aku bersyukur pernah mengenal dan dekat dengan Yuli meski kebersamaan kami hanya berlangsung sekitar satu tahun karena pada tahun ajaran berikutnya aku memutuskan untuk pindah ke UGM. Satu tahun yang aku lalui di Semarang sungguh berharga karena di sana aku belajar tentang ketundukan menerima kebenaran dan tentang kesederhanaan… Terima kasih Yuli atas pelajaran hidup yang tanpa sadar kau ajarkan kepadaku…

Semoga aku dan kamu tetap istiqamah di jalan da’wah ini…
Dan semoga ALLAH mempertemukan kita kembali dalam keadaan yang lebih baik di dunia dan di jannah–NYA…

Yogyakarta, 18 Jumadits Tsani 1434 H
Saturday, April 27, 2013
11.11 p.m.

Merindukan Semarang dan segenap isinya…

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s