Habis Galau Terbitlah Karya

Galau Habis Galau Terbitlah Karya

Beberapa tahun belakangan ini kata galau menjadi kata yang sangat populer, terutama di kalangan anak gaul. Galau sebenarnya bukanlah kosa kata baru. Kata ini telah lama menjadi kata baku dalam Bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online mendefinisikan kata galau, bergalau sebagai suatu kata yang menggambarkan kekacauan pikiran. Dari referensi yang lain, kata galau kata galau dikaitkan dengan gelisah, gundah, dan menyimpan beban dalam diri. Populernya kata galau menunjukkan generasi muda saat ini sering mengalami kegalauan dan banyak pihak menganggap buruk fenomena ini.

Sebenarnya kegalauan adalah sesuatu yang netral, ia bisa baik, pun bisa buruk tergantung bagaimana pemilik kegalauan mengelolanya. Sejarah mencatat kegalauan yang dikelola secara benar menghasilkan karya–karya monumental yang manfaatnya tak terputus hingga detik ini dan mengalirkan pahala yang tak terputus bagi pemilik kegalauan. Sebut saja kegalauan Ummar ibn Al Khaththab, salah seorang shahabat terbaik Rasulullah. Pasca berkecamuknya perang Yamamah yang menjadi jalan syahid sejumlah besar hafizh, berkecamuklah kegalauan dalam benak Ummar. Beliau sangat galau tentang nasib Al–Quran. Akankah Al–Quran musnah seiring dengan syahidnya para hafizh? Kegalauan tersebut kemudian beliau kelola dengan baik,beliau mengerahkan segala energinya untuk memecahkan kegalauan tersebut. Hasilnya,beliau menemukan ide cemerlang: membukukan Al–Quran. Beliau pun membujuk dan meyakinkan Abu Bakar selaku Khalifah saat itu untuk membukukan Al–Quran hingga akhirnya Abu Bakar menerima usulan tersebut dan memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan dan membukukan ayat–ayat Al–Quran. Proyek pembukuan Al–Quran itu kemudian dilanjutkan serta disempurnakan pada masa Utsman ibn Affan. Berawal dari kegalauan yang dikelola secara benar oleh Ummar ibn Al–Khaththab, saat ini kita masih bisa membaca Al–Quran yang sama seperti Al–Quran yang dibaca oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Semoga ALLAH senantiasa mengalirkan pahala dan ni’mat kepada Ummar dan seluruh pihak yang terlibat dalam pembukuan Al–Quran.

Lihat juga bagaimana seorang muhadits besar Abu Abdullah Muhammad bin Ismail atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Al–Bukhari pun pernah galau. Masalah apakah gerangan yang membuat seorang muhadits sebesar Imam Al–Bukhari galau gundah gulana? Beliau paham betul bahwa untuk memahami Al–Quran sangat diperlukan penjelasan dari sang penerima wahyu pertama (baca: hadits). Tetapi sayangnya, saat itu validitas sesuatu yang diklaim sebagai hadits belum dapat dipastikan karena hadits shahih dan dhaif masih bercampur, bahkan sejumlah kitab hadits masih bercampur dengan fatwa shahabat,tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Kenyataan ini membuat beliau resah. Beliau pun bertekad untuk memisahkan hadits shahih dari yang selainnya. Beliau bahkan rela menghabiskan waktunya bertahun–tahun, berkunjung dari satu negeri ke negerilainnya untuk menelursuri jejak para perawi hadits hingga diketahui apakah hadits yang diriwayatkannya layak diterima atau tidak. Singkat cerita, beliau mengelola kegalauannya dengan sangat apik hingga menghasilkan karya besar, yang bahkan disebut–sebut sebagai kitab paling shahih setelah Al–Quran, yaitu Kitab Al–Jami’Ash–Shahih atau yang kita kenal sebagai Shahih Bukhari. Semoga ALLAH menilainyasebagai ‘ilman nafi’an yang akanterus mengalirkan pahala kepada beliau meski raga beliau telah menyatu dengan tanah.

Kegalauan Syaikh Taqiyuddin An Nabhani juga menarik untuk disimak. Beliau sempat mencicipi hidup di bawah naungan Khilafah Utsmani, meski sekejap. Tepatnya pada masa kanak–kanak, beliau menyaksikan kekacauan kehidupan menjelang runtuhnya Khilafah, hingga pasca ketiadaan Khilafah, ketika kekacauan semakin menjadi–jadi. Dengan latar belakang yang demikian, beliau sangat memahami bahwa ummat ini memerlukan Khilafah yang akan membawanya menuju kedudukan yang dijanjikan ALLAH: khayra ummah.

Beliau sangat galau melihat ummat yang semakin terpuruk dari hari ke hari pasca ketiadaan Khilafah. Kegalauan beliau semakin bertambah ketika menyaksikan banyak pergerakan pemuda dan partai yang berupaya membangkitkan kembali ummat tetapi selalu gagal dan gagal lagi. Beliau pun mengelola kegalauannya tersebut dengan baik, beliau memikirkan faktor apa saja yang menyebabkan kegagalan sejumlah pergerakan dan partai–partai itu serta merumuskan langkah–langkah yangharus ditempuh sebuah partai untuk dapat membangkitkan ummat. Beliau menuliskannya dengan sangat apik dalam sebuah kitab mungil nan sarat ilmu yang berjudul At–Takatul Al–Hizbiy (diterjemahkan ke dalam edisi berbahasa Indonesiamenjadi “Pembentukan Partai Politik Islam”). Tak berhenti sampai di sana, beliau pun mendirikan partai politik Islam bernama Hizbut Tahrir yang hingga detik inimasih berdiri kokoh dan menyebar ke seluruh penjuru dunia untuk membangkitkan kembali ummat dan melanjutkan kehidupan Islam dalam naungan Khilafah. Saat ini Hizbut Tahrir dikenal sebagai partai politik Islam yang sangat lantang menyerukan dan memperjuangkan penerapan syari’ah Islam secara menyeluruh dalambingkai Khilafah.

Kegalauan seorang Taqiyuddin An Nabhani melahirkan sebuah partai politik yang mampu mengkoordinasikan gerak da’wah jutaan kadernya—yang insya ALLAH terdiri dari orang–orang mukhlish—untuk membangkitkan ummat. Sungguh kegalauan yang menghasilkan amal shalih, insyaALLAH. Semoga ALLAH merahmati Taqiyuddin An Nabhani yang telah meletakkan pondasi Hizbut Tahrir pun meridhai setiap langkah da’wah yang ditempuh HizbutTahrir.

Demikianlah,Ummar ibn Al–Khaththab, Imam Al–Bukhari, dan Taqiyuddin An Nabhani telahmemberikan contoh bagaimana mengelola kegalauan—sesuatu yang secara alami pasti pernah dialami oleh setiap manusia—dengan baik sehingga menghasilkan karya besar yang [semoga] menjadi amal shalih yang akan senantiasa mengalirkan pahala kepada mereka meski raga mereka sudah tak mampu lagi berbuat apa pun. Sungguhsebuah ni’mat yang luar biasa jika kita mampu mengubah kegalauan menjadi suatu energi positif yang menggerakkan dan menghasilkan karya, bukan membiarkannya sekadar menjadi ratapan apalagi mematikan produktivitas.

So, jangan matikan kegalauan tetapi kelolalah kegalauan dengan baik hingga habis galau terbitlah karya! Bukan sembarang karya, tetapi karya yang bernilai amal shalih:menebar manfaat bagi penduduk bumi dan layak dibanggakan di hadapan penduduklangit..🙂

Yogyakarta,21 Jumadits Tsaniy 1434 H
Tuesday,April 30, 2013
10.14 p.m.

Menghabiskan menit – menit terakhir di bulan April

HaafizhahKurniasih

(Terinspirasi dari tulisan berjudul “Galaunya Para Ulama” karya Ahmad Zarkasih., S.Sy di http://www.rumahfiqih.com/art.php?id=45&=galaunya-para-ulama.htm)

2 thoughts on “Habis Galau Terbitlah Karya

  1. Sedangkan kegalauan sendiri bermakna, kekhawatiran, keresahan, kepanikan, kegelisahan, kebingungan. Galau adalah buah atas ketidakpastian pendirian dan sikap, sehingga fikiran terbang mencari jenis kenyamanan seadanya, dimana perasaan seseorang sedang gundah atau gelisah, lupa akan akan diri sendiri, sehingga hilang segala kewarasan dan kejernihan berfikirnya, membuatnya menjadi lemah, hilang semangat diri, tidak ada gairah menjalani kehidupan, ada yang menyebutnya futur.

    • Terima kasih atas kunjungan dan masukannya Mba / Mas Amber…
      Mohon maaf, itu definisi “galau” tersebut diambil dari mana? Referensinya mungkin…🙂🙂🙂

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s