Konsekuensi Sebuah Do’a

sujud-2
Konsekuensi Sebuah Doa

“Berdoalah kepada–KU, niscaya akan AKU kabulkan untuk kalian!” demikianlah janji ALLAH dalam QS. Al–Mu’min [40]: 60. Benar, ALLAH memperkenankan kita meminta apa pun,sebanyak apa pun, dan sesering apa pun. Bahkan ALLAH senang jika diminta. Jangankan sekadar meminta penampilan yang menarik, kelulusan dengan predikat cum laude, pekerjaan yang mapan, mobil mewah, rumah mewah, pesawat terbang, kapal pesiar, pasangan yang shalih / shalihah, atau kedudukan yang terhormat. Bahkan meminta surga dan bukan sekadar surga tetapi surga Firdaus, bertetanggadengan Rasulullah pun boleh.

Kita boleh meminta kemuliaan seperti kemuliaan yang diterima oleh ummul Mu’minin Khadijah r.a.. Mendapatkan salam langsung dari ALLAH dan dibangunkan istana mutiara di surga adalah kemuliaan yang sangat layak kita minta. Itu adalah doa yang baik dan memang selayaknya seorang Muslimah menginginkan kemuliaan itu. Tetapi perlu diingat, Khadijah r.a. tidak mendapatkan kemuliaan itu dengan gratis, beliau menebusnya dengan segala yang dimilikinya. Demikian pula dengan kita, kita tidak mungkin bisa memperoleh kemuliaan tersebut dengan gratis.

Oleh karenanya, segera setelah kita berdoa meminta kemuliaan seperti yang diterima Khadijah r.a., kita pun harus siap atas konsekuensi doa kita. Pada mulanya Khadijah adalah seorang perempuan terhormat, business woman yang kaya raya, yang perintahnya selalu dituruti. Namun segalanya perlahan berubah sejak sang suami menerima wahyu kenabian. Khadijah mengimani kebenaran yang dibawa sang suami saat semua orang mengingkari, beliau membelanya saat yang lain memusuhi, dan beliau meneguhkan da’wah suami saatmanusia mencoba meredamnya. Khadijah pun memberikan seluruh hartanya untuk keberlangsungan da’wah saat manusia menahannya. Kekayaan dan keduduka nterhormatnya di hadapan manusia sirna seketika berubah menjadi kemiskinan yang mencekik leher, pemboikotan yang menghinakan, dan penderitaan yang menghimpit. Sejarah mencatat bagaimana penderitaan yang Khadijah alami selama pemboikotan tetapi beliau tetap setia dan tegar berdiri di samping Muhammad guna menguatkannya. Itulah sebagian harga yang dibayar oleh Khadijah untuk mendapatkan kemuliaannya. Sanggupkah kita menjalani semua cobaan itu guna membayar kemuliaan yang kita minta?

Kita pun boleh meminta kedudukan seperti kedudukan yang diberikan kepada Aisyah r.a.. Rasulullah telah memastikan di mana posisi Aisyah di surga kelak bahkan ketika Aisyah masih berjalan di muka bumi. ALLAH pun menjamin kesucian Aisyah melalui wahyu yang akan terus dibaca ummat Islam hinggahari akhir.

Sama seperti Khadijah, Aisyah pun mendapatkan semua itu tidak dengan gratis. Beliau melalui serangkaian ujian yang tidak bisa dibilang ringan. Salah satu ujian terberat yang beliau lalui adalah ketika orang–orang meragukan kesetiaannya kepada sang suami yang sekaligus adalah Rasulullaah (peristiwa haditsul ifki). Dalam pandangan saya, hal ini juga berarti orang–orang mempertanyakan keimanan Aisyah. Pada saat itu tak ada seorang pun yang membela Aisyah, termasuk kedua orang tuanya. Sungguh ujian yang tidak mudah. Siapa pun perempuan yang mengalaminya pasti akan berurai air mata dan sangat shock. Bahkan mungkin akan melakukan tindakan–tindakan emosional yang melampaui batas. Akan tetapi tidak demikian dengan Aisyah, beliau tetap mampu mengendalikan dirinya hingga ALLAH turun tangan membela kesuciannya dengan menurunkan QS. An–Nuur [24]: 23–26. Ketika kita berdoa memohon kedudukanseperti kedudukan Aisyah, yakinkah kita mampu menjalani ujian seberat ujian yang dialami Aisyah?

Kita juga boleh berdoa meminta kedudukan istimewa seperti yang didapatkan oleh Abu Bakar. Itu doa yang bagus. Menginginkan diri menjadi kekasih Rasulullah, sahabat yangpaling dicintai Rasulullah adalah keinginan yang sangat terpuji. Menginginkan jaminan tempat di surga adalah keinginan yang selayaknya ada di benak setiap Muslim.

Tapi, sekali lagi jangan lupa! Abu Bakar mendapatkan keistimewaan itu tidak dengan gratis. Beliau menebusnya dengan dengan pengorbanan yang sangat besar. Beliau membenarkan kisah Isra’ Mi’raj ketika semua manusia mendustakan bahkan mengolok–oloknya. Beliau menafkahkan hartanya untuk Islam di saat manusia menahannya. Bahkan beliau sanggup tidak meninggalkan harta sedikit pun untuk keluarganya demi Islam.

Semua kemuliaan yang didapatkan oleh orang–orang mulia tidaklah diperoleh dengan cuma–cuma melainkan selalu dibayar dengan pengorbanan dan ujian yang seringkali tidak sekadar menguras air mata tetapi juga darah dan nyawa. Pun demikian ketika kita berdoa “Ya ALLAH…, muliakanlah tanganku dengan menjadikannya tanganyang KAU gunakan untuk merealisasikan janji–MU memenangkan Islam”. Ingatlah,dahulu ALLAH menggunakan tangan siapa untuk memenangkan Islam? Ya, tangan para shahabat Rasul yang mulia. Lihatlah kehidupan para shahabat! Bagaimana mereka tertatih–tatih meraih kemuliaan itu? Cobaan demi cobaan tak henti–hentinya mendera mereka hingga mereka benar–benar teruji dan layak menerima kemuliaan itu: ALLAHmenggunakan tangan–tangan mereka untuk merealisasikan janji – NYA memberikan kekuasaan kepada ummat Islam. So, ketika kita berdoa meminta kemuliaan itu, jangan lupasiapkan diri kita untuk menerima cobaaan demi cobaan yang akan mengantarkankita pada kemuliaan yang kita inginkan.

ALLAH tidak sedang menggombal ketika DIA berjanji akan mengabulkan segala pinta. Maha Suci ALLAH dari sifat yang demikian. Janji itu adalah janji yang pasti akan DIA tepati. Maka, tidak selayaknya kita sekadar menggombal ketika meminta kemuliaan kepada–NYA. Kita harus serius ketika berdoa yang dibuktikan dengan kesiapan diri menerima pengabulan doa.

So, jika kita merasa tengah mengalami ujian yang begitu berat, ada baiknya mengingat–ingat kembali doa apa saja yang pernah kita panjatkan. Kemuliaan seperti apa yang pernah kita mintakan. Jika ketika pernah meminta kemuliaan untuk bisa bertetangga dengan Mush’ab ibn Umair di surga, maka jangan mengeluh jika kitamenerima ujian yang mirip seperti ujian yang mirip dengan ujian yang pernah dijalani Mush’ab. Bergembiralah! Itulah tanda ALLAH tengah memberi jalan kepada kita untuk menerima kemuliaan yang kita mintakan. Bergembiralah atas setiap ujian yang kita terima! Bisa jadi itu adalah pertanda ALLAH tengah mengabulkan doa kita. Jalani saja dengan sebaik–baiknya sambil terus meminta dikuatkan agar bisa meraih kemuliaan yang pernah kita mintakan….

Yogyakarta,3 Rajab 1434 H
Monday, May13, 2013
9.30 a.m.

Haafizhah Kurniasih
Sebuahrenungan atas tanda–tanda terkabulnya beberapa doa….🙂

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s