Menakar Kekuatan Opini Ummat

Menakar Kekuatan Opini Ummat

Kegiatan menyebarkan opini, baik melalui pemasangan jargon, tulisan–tulisan di media masa, seminar, konferensi, apalagi demonstrasi seringkali dianggap sebelah mata. Kata–kata miring hingga celaan pun sering kali terdengar menanggapi penyebaran opini. NATO (No Action, Talk Only) dan OMDO adalah julukan yang kerap dilekatkan pada mereka yang menempuh perjuangan pada jalur penyebaran opini. Anggapan miring bahwa mereka hanya bisa berwacana tanpa aksi sudah jamak dialami. Sebagian orang bahkan terlanjur menghakimi bahwa penyebaran opini tidak akan membuahkan apa–apa kecuali hanya tersebarnya opini semata, tak akan membawa perubahan apa pun dalam kehidupan.

Ummat pun seolah kehilangan kepercayaan dirinya. Merasa tidak yakin bahwa mereka mampu mengubah keadaan. Mereka terlalu inferior dan menganggap hanya penguasa dan aparat pemerintahan sajalah yang dapat mengubah keadaan. Sering sekali terdengar respon “Saya ini hanya rakyat biasa, hanya bisa nrimo apa yang terjadi” atau “Percuma saja kita teriak–teriak menuntut ini itu, tidak bakalan didengar! Wong kita hanya rakyat kecil!” ketika ummat diajak untuk turut menyuarakan pendapatnya. Seolah–olah perubahan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang duduk di kursi pemerintahan dan suara ummat tak ada artinya sama sekali.

Anggapan miring dan inferioritas inilah yang menghadang proses penyebaran opini sehingga kurang mendapatkan respon positif dari masyarakat. Tapi benarkah sedemikian lemah kekuatan opini ummat? Sedemikian tidak berharganyakah suara ummat sampai–sampai teriakan–teriakan mereka tak pernah dianggap?

Agaknya, apa yang terjadi selama dua tahun ini (2012–2013) di sini cukup menjadi pelajaran bagi kita untuk mengkaji ulang anggapan tersebut. Awal 2012 opini negatif tentang Lady Gaga yang dianggap sebagai icon satanisme telah menggerakan ummat untuk menyuarakan penolakannya. Gelombang opini ini akhirnya berhasil memberikan tekanan yang sangat besar kepada si Mother Monster ini untuk membatalkan rencana konser yang sedianya akan digelar pada bulan Mei tahun yang sama. Pembatalan ini tak pernah dinyana sebelumnya karena saat itu tiket konser induk monster itu telah terjual tanpa sisa. Namun, ternyata opini penolakan umat yang begitu lantang disuarakan telah membuat Lady Gaga dan managemennya tak punya nyali untuk datang ke negeri ini. Sebuah kesyukuran layak dipanjatkan atas keberhasilan ummat menghalau datangnya icon satanisme dan budaya liberal.

Masih di tahun yang sama, tepatnya Mei 2012 ummat kembali menunjukkan kekuatannya, meski yang mereka miliki hanyalah opini. Rencana kedatangan tokoh feminis liberal Irshad Mandji yang akan memberikan seminar di Universitas Gadjah Mada telah membuat ummat geram. Seluruh elemen ummat, terlebih kalangan intelektual yang terbiasa bergelut dengan beragam pemikiran ummat merasakan kegeraman yang teramat sangat. Kegeraman ini menyadarkan mereka tentang pentingnya menyerukan penolakan agar dunia tahu bahwa mereka tidak ridha si ratu lesbian menginjakkan kakinya di negeri ini. Demi melindungi akidah, mereka menyelaraskan gerak bersama segenap elemen ummat lainnya menolak kedatangan Mandji. Serangkaian acara mulai dari diskusi terbuka, seminar, tulisan–tulisan di media masa hingga demonstrasi di jalanan mereka gelar untuk memenangkan opini menolak Mandji. Hasilnya, mereka berhasil membuat Mandji angkat kaki dari negeri ini sebelum sempat menyebarkan virus liberalnya yang mematikan di kalangan intelektual Gadjah Mada. Ini adalah keberhasilan yang besar mengingat Mandji terusir saat dia telah berada di Yogyakarta. Selangkah lagi, ratu lesbian ini dia akan menggelar seminarnya namun dia harus terusir secara tragis dari Kota Pelajar.

Awal tahun 2013 ini, ketika ummat merasa terancam dengan rencana pengesahan RUU Ormas ummat kembali melakukan penggalangan opini. Berbagai upaya demi menjadikan opini penolakan RUU Ormas sebagai opini bersama dilakukan tanpa kenal lelah. Tulisan–tulisan di media cetak dan elektronik, debat–debat terbuka di televise, spanduk–spanduk di jalanan, hingga unjuk rasa di pusat–pusat kota dipenuhi opini penolakan RUU Ormas. Seluruh elemen ummat sepakat menolak RUU Ormas yang berpotensi mengebiri serta mengkriminalisasi ummat Islam. Menyaksikan gelombang opini penolakan yang begitu kuat, parlemen ciut nyalinya dan memilih menunda pengesahan sambil melakukan lobi–lobi politik ke sejumlah tokoh ummat. Lobi tak berhasil, ummat tetap pada sikapnya semula: menolak RUU Ormas. Parlemen pun luluh, merevisi total RUU Ormas. Sebuah keberhasilan yang selayaknya mengangkat kepercayaan diri ummat bahwa suara mereka bisa mengubah keadaan.

Satu lagi peristiwa yang baru saja terjadi kembali membuktikan kekuatan opini ummat yang cukup besar. Ajang Miss World yang digelar di negeri ini mengundang kontroversi yang tajam. Suara ummat di satu sisi dan ambisi kapitalis di sisi yang lain. Ummat tegas menolak ajang kampanye ketelanjangan tersebut sementara kerakusan kapitalis ngotot menggelar ajang eksploitasi perempuan demi kemajuan bisnisnya. Belajar dari keberhasilan sebelumnya, ummat tak tinggal diam, ummat kembali menyelaaskan langkah menyaruakan penolakannya atas demonstrasi kemaksiyatan ini. Ummat tetap percaya diri melakukannya bahkan di saat sang Gubernur merasa tak punya kekuatan apa pun untuk menolaknya. Keteguhan ummat menolak Miss World membuat pemerintah meninjau ulang perizinan yang telah dikeluarkan. Event yang semula telah mendapatkan izin untuk digelar di berbagai titik di Nusantara ini menjadi terlokalisasi hanya boleh digelar di Bali. Miss World tidak boleh mengadakan kegiatan di luar Bali. Meski tidak 100% berhasil menolak penyelenggaraan Miss World, keberhasilan ummat melokalisasi Miss World layak diapresiasi. Bukan perkara yang mudah membatasi ruang gerak event besar dunia ini mengingat banyaknya kepentingan yang bermain di dalamnya.

Sejumlah keberhasilan di atas cukup membuktikan kepada kita bahwa jalur perjuangan melalui penyebaran opini bukanlah jalur perjuangan yang tak akan pernah bemuara pada keberhasilan. Menyebarkan opini bukanlah berarti tanpa kerja dan tanpa hasil. Pun membuktikan kepada kita bahwa sejatinya jika ummat bersatu, ummat memiliki kekuatan yang cukup besar untuk mengubah keadaan seperti yang mereka inginkan. Sudah bukan masanya lagi kita meragukan kekuatan opini ummat dan meremehkan kerja penyebaran opini. Saatnya kita menyeriusi kerja penyebaran opini, menangkan opini ummat, dan pimpin mereka mewujudkan idealita di tengah kehidupan mereka.

Yogyakarta, 19 Dzul Qa’dah 1434 H
Tuesday, September 24, 2013
7.47 p.m.

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s