Tuan Rumah Miss World, Untung atau Buntung?


Suara Merdeka 12 September 2013

(Dimuat di Suara Merdeka edisi Kamis, 12 September 2013)

Dalam beberapa hari ke depan Indonesia akan menjadi tuan rumah event besar dunia; Final Miss World. Bahkan kontestan dari berbagai negara telah berdatangan di tanah air. Semakin mendekati final kontes ratu sejagad ini, kontroversi tentangnya semakin gencar. Perang opini antara pihak yang mendukung dan menentang kontes kecantikan itu semakin memanas.

Pihak yang mendukung merasa bahwa adalah suatu prestasi yang membanggakan bagi Indonesia dipercaya menyelenggarakan event yang akan dihadiri oleh 130 kontestan yang masing–masing mewakili negaranya. Mereka juga menganggap bahwa event ini sangat menguntungkan bagi Indonesia terutama dari sisi pariwisata mengingat event ini akan disiarkan live ke 130 negara selama kurang lebih satu bulan. Harapannya, hal ini akan menjadi sarana promosi pariwisata yang efektif untuk mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan asing. Sektor perdagangan, khususnya industri souvenir juga diharapkan akan bergairah dengan digelarnya event ini.

Sedangkan bagi pihak yang kontra, menjadi tuan rumah final Miss World bukanlah hal yang menguntungkan, apalagi prestasi yang layak dibanggakan. Benar, Indonesia akan kedatangan wakil dari 130 negara, tetapi sayangnya mereka akan membawa “ajaran” yang buruk, yaitu “kampanye ketelanjangan”. Miss World akan mengajari perempuan–perempuan Indonesia bagaimana caranya bertelanjang memamerkan kemolekan tubuhnya dihadapan publik tanpa rasa malu. Dampaknya bisa diduga: pornografi dan pornoaksi akan semakin merajalela di negeri ini. Dampak berikutnya pelecehan seksual hingga pemerkosaan akan semakin meningkat. Inikah yang kita inginkan?

Secuil devisa yang diperoleh dari sektor pariwisata dan perdagangan yang terdongkrak oleh penyelenggaraan Miss World tidak ada artinya dibanding ancaman kerusakan moral akibat “kampanye ketelanjangan” yang mereka lakukan. Lagipula, untuk meningkatkan kunjungan wisatawan asing bisa dilakukan dengan cara lain yang lebih efektif dan tidak perlu mengorbankan moralitas anak–anak bangsa. Jika keuntungan Miss World adalah iklan massif ke 130 negara, maka instruksikan saja dinas pariwisata untuk membuat website yang menarik dan mudah diakses untuk mempromosikan destinasi wisata kita. Atau kerahkan saja para blogger untuk mempromosikan sektor wisata kita melalui lomba blogging dengan hadiah yang menarik.

Banyak cara lain untuk mendongkrak sektor pariwisata dan perdagangan selain Miss World yang akan membawa banyak dampak buruk bagi generasi penerus kita.

Khafidoh Kurniasih., S.Farm., Apt.

Aktivis Muslimah HTI

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s