Penyadapan, Patutkah Dimaklumi?

Penyadapan, Patutkah Dimaklumi?[1]

Khafidoh Kurniasih., S.Farm., Apt.[2]

 

Beberapa saat yang lalu dunia digemparkan dengan pemberitaan di beberapa majalah terkemuka dunia; Der Spiegel (Jerman), Guardian (Inggris) dan Sydney Morning Herald (Australia) yang membeberkan ulah AS menyadap sejumlah negara di dunia. Dalam pemberitaan tersebut, terungkap sejumlah negara besar seperti Jerman dan Prancis pun tidak luput dari aksi penyadapan yang dilakukan AS. Tidak cukup sampai di situ, diwartakan pula bahwa AS memiliki 90 pos dilengkapi dengan fasilitas penyadapan yang tersebar di seluruh dunia, salah satunya Kedutaan Besar AS di Jakarta. Setali tiga uang dengan panutannya, Australia pun melakukan penyadapan. Menurut pemberitaan tersebut, Australia telah lama menyadap sejumlah pejabat penting Indonesia, di antaranya SBY, Ibu Negara Ani Yudhoyono, Wapres Boediono, Menko Perekonomian, Dubes RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal, mantan Menkeu RI yang kini menjabat Direktur Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati, dan mantan Menpora Andi Mallarangeng.

Tindakan AS dan Australia ini menuai respon yang beragam dari para korbannya. Negara–negara Eropa bereaksi sangat keras terhadap aksi AS ini. Bahkan Prancis menuntut penghentian perundingan antara Uni Eropa dan AS gara–gara kasus ini. Bertolak belakang dengan sikap Eropa, pemerintah Indonesia justru terlihat cukup santai menyikapi isu ini. Pun ketika Perdana Menteri Australia Tony Abbot dengan arogan menyatakan bahwa Australia tidak perlu meminta maaf karena penyadapan adalah hal yang wajar dilakukan untuk melindungi negara. Publik Indonesia jelas tersulut emosinya mendengar arogansi Abbot tersebut. Uniknya, beberapa politisi Indonesia justru tampak berupaya membujuk warganya agar berempati terhadap Australia dengan mengatakan bahwa penyadapan adalah hal yang normal terjadi dalam pergaulan internasional. Bahkan, pemerintah Indonesia tetap mengizinkan pembangunan gedung baru kedubes AS terus berlangsung meski ada dugaan sangat kuat gedung tersebut menjadi markas intelejen AS.

Islam Bicara tentang Penyadapan

Penyadapan adalah sesuatu yang jamak terjadi di area interaksi antar negara. Bahkan, tiap negara memiliki badan intelejen yang salah satu tugasnya adalah melakukan penyadapan.  Penyadapan dimaksudkan untuk mengetahui isi pembicaraan rahasia yang melibatkan pihak yang disadap. Oleh karenanya, penyadapan dapat diategorikan sebagai salah satu bentuk spionase, mata–mata, atau tajasssus.

Taqiyuddin An Nabhani dalam Kitabnya “Asy Syakhshiyyah Al Islamiyah Jilid II” mendefinisikan spionase sebagai tindakan meneliti dan mengamati data–data baik yang tersembunyi maupun yang terbuka, yang bersifat rahasia maupun yang diketahui publik untuk menguak data–data tersebut. Kegiatan spionase biasa dilakukan oleh badan intelejen maupun oleh pihak swasta seperti wartawan dan paparazzi seperti yang pernah dilakukan oleh Wikileaks.

An Nabhani menjelaskan lebih lanjut bahwa hukum melakukan spionase dibedakan berdasarkan objek yang dimata–matai. Jika objek yang dimata–matai adalah ummat Islam atau kafir dzimmi, maka hukumnya adalah haram berdasarkan firman ALLAH: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan (tajassus) orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain….” (TQS. Al–Hujurat [49]: 12). Ayat tersebut menunjukkan secara tegas larangan melakukan tindak spionase baik demi kepentingan sendiri maupun orang lain, baik untuk perorangan, kelompok, maupun negara, baik dilakukan penguasa atau pun rakyat.

Adapun jika objeknya adalah kafir harbiy, maka hukumnya adalah boleh bagi individu Muslim, bahkan wajib bagi Negara Islam. Tindakan spionase terhadap orang kafir dikecualikan dari keumuman ayat di atas berdasarkan perbuatan Rasulullah. Dalam Sirah Ibnu Hisyam ditemukan riwayat bahwa pada permulaan berdirinya Negara Madinah, Rasullullah mengutus Abdullah ibn Jahsy beserta sejumlah shahabat untuk memata–matai kafilah dagang kafir Quraisy dan melaporkan hasil pengamatannya kepada Rasulullah selaku kepala Negara.

Wajibnya melakukan spionase bagi Negara Islam juga didasarkan pada kaidah “Jika suatu kewajiban tidak akan sempurna pelaksanaannya tanpa adanya sesuatu, maka sesuatu tersebut menjadi wajib pula”. Dalam hal ini, melindungi keamanan negara adalah suatu kewajiban. Sedangkan upaya melindungi keamanan negara tidak mungkin dapat terwujud tanpa menguasai informasi–informasi strategis tentang musuh yang hanya dapat diperoleh dari tindakan spionase. Dari sini, dapat dimengerti bahwa spionase adalah kebutuhan bagi sebuah negara.

Masih merujuk Asy Syakhshiyyah Al Islamiyyah Jilid II, hukuman bagi pelaku spionase pun dibedakan berdasarkan statusnya. Jika pelaku spionase adalah kafir harbi, maka dia dihukum mati berdasarkan hadits riwayat Bukhari dari Salamah bin Al Akwa (yang artinya): “Seorang mata-mata dari orang musyrik menemui Nabi yang sedang dalam perjalanan, ia duduk diantara para sahabat sambil bercakap-cakap, lalu pergi secara diam-diam. Lalu Nabi berkata: cari dan bunuh dia! Maka aku mendahului yang lain untuk mendapatkan dia, lalu aku membunuhnya, kemudian Rasululloh saw. memberikan barang rampasannya kepadaku”. Sedangkan jika pelakunya adalah Muslim warga negara Khilafah, maka tidak dihukum mati melainkan diberikan hukuman lain sesuai kebijakan Qadhi. Hal ini berdasarkan riwayat tentang Furat bin Hayyan dan riwayat tentang Hatib Abi Balta’ah.

Menyikapi AS dan Australia

Meski kita telah maklum bahwa dalam interaksi antar negara, memata–matai negara musuh adalah sebuah kebutuhan bagi tiap negara, bukan berarti kita layak bersikap santai ketika mengetahui ada negara yang menyadap kita. Apatah lagi berempati pada negara penyadap dengan alasan mereka pun perlu melindungi negaranya dari serangan musuh.

Jika kita perhatikan, melalui pernyataannya terkait tindak penyadapan yang mereka lakukan, Tony Abbot telah mendeklarasikan bahwa Australia menganggap Indonesia sebagai musuh dan ancaman baginya. Dilengkapinya gedung kedutaan besar AS dengan fasilitas penyadapan juga menunjukkan bahwa AS menganggap kita sebagai musuh, bukan sahabat. Maka alangkah bodohnya jika kita masih menganggap AS dan Australia sebagai negara sahabat. Apalagi sejak 14 abad silam ALLAH telah mengingatkan melalui ayat–NYA yang mulia:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (TQS. Ali Imran [3]: 118)

Permasalahan utama bangsa ini adalah negara ini hanyalah negara pembebek ideologi Kapitalisme yang diusung oleh Barat. Sebagai negara pembebek, negara ini pun tidak pernah menjadi subjek tapi hanya objek penderita yang kebijakan–kebijakannya pun sering kali—kalau tidak boleh mengatakan selalu—merujuk pada kebijakan Barat, dalam hal ini AS sebagai pemimpin Kapitalisme. Termasuk dalam kebijakan luar negeri kita yang bersifat defensif. Dengan strategi diplomasi yang bersifat defensif tersebut, kita akan selalu menganggap setiap negara adalah negara sahabat meskipun para “sahabat” tersebut telah berulang kali mengkhianati, bahkan menganggap kita musuh. Berkaitan dengan Australia, sesungguhnya Australia telah mengkhianati kita dalam kasus lepasnya Timor Timur tetapi kita tetap saja menganggapnya sebagai sahabat. Maka wajar jika kita senantiasa menjadi bulan–bulanan negara lain karena kita terlalu sering berempati dan melupakan pengkhianatan negara lain.

Dalam pergaulan antar negara, tidak pada tempatnya kita berempati kepada negara yang memposisikan kita sebagai musuh. Karena jika kita memaklumi permusuhan mereka, sama artinya dengan kita mengumpankan rakyat dan negeri ini kepada mereka. Maka sungguh tepat apa yang diajarkan Rasulullah kepada kita: hukuman mati bagi orang kafir yang memata–matai ummat Islam dan negaranya. Dengan begitu, tidak saja keamanan negara ini terjamin tetapi juga negara ini akan memiliki kewibawaan dalam pergaulan antar negara.

Sayangnya, kita tidak akan pernah bisa melakukannya selama kita masih membebek pada ideologi Kapitalisme. Untuk dapat memiliki kewibawaan tersebut, ideologi negara kita harus jelas dan tidak boleh hanya bersifat lokal atau bertahan tetapi harus bersifat global dan ofensif. Maka, langkah pertama yang harus dilakukan dalam menyikapi penyadapan ini adalah campakkan ideologi Kapitalisme dan ambil Islam sebagai ideologi negara. Kedua, lakukan pemetaan ulang terhadap hubungan diplomatik dengan negara–negara di dunia ini. Kesalahan fatal kita dalam pergaulan internasional adalah ketidakmampuan memetakan mana lawan mana kawan. Islam memberikan kriteria yang jelas dalam interaksi antar negara. Berdasarkan sikapanya terhadap Negara Islam, Islam menggolongkan negara–negara di dunia ini ke dalam tiga kategori: Muhariban fi’lan (nyata–nyata memerangi Islam), Muhariban hukman (tidak secara nyata memusuhi Islam) dan Negara Muahadah (negara yang terikat perjanjian dengan Negara Islam). Ketiga, kita harus segera memiliki pemimpin yang berani dan tegas kepada musuh–musuh Negara sekaligus lembut mengayomi kepada rakyatnya. Yang terakhir, tentu saja kita harus menguasai teknologi penyadapan dan antipenyadapan yang paling canggih.

Demikianlah seharusnya kita menyikapi tindakan spionase yang dilakukan negara lain terhadap negara kita. Semoga ALLAH segera memampukan kita untuk melakukan langkah demi langkah yang Islam tuntunkan untuk menyikapi penyadapan ini.

 

Yogyakarta, 8 Shafar 1435 H

Wednesday, December 11, 2013

9.44 p.m.

 

 

Rujukan

Asy Syakhshiyyah Islamiyyah Jilid II karya Taqiyuddin An Nabhani (HTI Press, 2011)

Sirah Ibn Hisyam

http://hizbut-tahrir.or.id/2013/11/20/tuan-presiden-begini-cara-islam-menghadapi-penyadapan/

http://www.arrahmah.com/kontribusi/sekilas-hukum-penyadapan-islam.html

 


[1] Disampaikan dalam Pengajian Umum Mingguan MHTI “Penyadapan dalam Perspektif Islam” Sabtu, 14 Desember 2013”

[2] Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s