Indonesia Berduka, Saatnya Evaluasi

Indonesia Berduka, Saatnya Evaluasi

Jumat, 14 February 2014 dini hari masyarakat dikejutkan oleh suara dentuman letusan Gunung Kelud, Jawa Timur. Suaranya terdengar hingga ke Yogyakarta. Dentuman tersebut segera disusul oleh hujan pasir dan abu yang menyebar ke seantero Pulau Jawa. Sebagian besar wilayah Pulau Jawa pun “lumpuh”. Sejumlah bandara turup, ratusan penerbangan dibatalkantransportasi darat pun terganggu karena pendeknya jarak pandang. Bahkan, toko–toko dan perkantoran pun tutup.

Letusan Kelud seolah melengkapi rentetan bencana yang sebelumnya melanda negeri ini. Sebut saja letusan Gunung Sinabung yang hingga saat ini belum tertangani dengan baik, tabrakan KRL dan truk BBM, banjir yang melumpuhkan pantura Jawa, gempa bumi, dll. Jika kita cermati, dari rentetan bencana tersebut ada yang merupakan akibat dari kesalahan manusia ada pula yang murni bencana alam.

Banyaknya bencana yang melanda negeri ini sepatutnya membuat kita mengevaluasi diri. Kesalahan apakah yang dilakukan penduduk negeri ini baik dalam skala individu, masyarakat, maupun pengelolaan negara yang mengakibatkan terjadinya berbagai macam bencana tersebut? Banyak hal yang bisa kita evaluasi dan selanjutnya kita benahi. Sebut saja ketidakdisiplinan sebagian orang, masyarakat yang kian individualistis sehingga kehilangan fungsi kontrolnya yang dapat mencegah individu–individu di dalamnya melakukan kesalahan. Jangan lupakan juga pengelolaan negara yang korup hingga bobroknya sistem dan perundangan yang digunakan untuk mengelola negara.

Selain mengevaluasi faktor human error dalam perkara teknis, sebagai ummat beragama yang meyakinai Kemahakuasaan Tuhan, selayaknya kita mengevaluasi pula ketaatan kita pada–NYA. Bagaimana ketundukan penduduk negeri ini di hadapan syariat–NYA? Sayangnya, justru sering kita saksikan para pengelola negara ini dengan bangga melakukan pembangkangan terhadap syariat–NYA. Contohnya: penguasa negeri ini telah berani menghalalkan minuman beralkohol yang DIA haramkan. Lebih parah lagi, ketika bergulir rencana penutupan perzinaan terbesar, sejumlah pihak ramai–ramai menentangnya.

Semua itu dapat mengundang bencana sebagai teguran dan peringatan agar negeri ini segera berbenah baik dalam perkara teknis maupun ideologis. Semoga kita bukan termasuk orang bebal yang sudah ditegur berulang kali tetap tidak juga menyadari kesalahannya. Kiranya rentetan bencana beruntun ini cukup untuk membuat kita mengevaluasi diri dan berbanah untuk semakin taat pada syariat–NYA.

 

Yogyakarta, 14 Rabi’uts Tsani 1434 H

Friday, February 14, 2014

9.00 p.m.

Khafidoh Kurniasih., S.Farm., Apt.

Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s