Membuang Tayangan “Sampah”[1]

 

Khafidoh Kurniasih., S.Farm., Apt.[2]

??????????? ????????Saat ini Televisi (TV) seolah telah menjelma menjadi sebuah benda ajaib yang dapat kita temui di setiap tempat. Di rumah, di ruang tunggu tempat pelayanan umum (RS, Puskesmas, Bank, dll), di alat transportasi missal, bahkan di pinggir jalan pun seringkali TV dapat kita jumpai. Selain mudah ditemui, TV juga dapat diakses 24 jam dengan pilihan stasiun TV yang beragam. Tak bisa dipungkiri, keberadaan TV dengan keadaannya yang demikian membuat masyarakat mudah mengakses masyarakat. Bahkan TV menjadi sumber informasi utama bagi sebagian orang yang tidak punya cukup banyak waktu untuk membaca dan kurang terampil menggunakan internet.

Sebagaimana produk teknologi lainnya, selain memberikan dampak positing TV juga memberikan pengaruh negatif yang cukup besar bagi masyarakat. Salah satu faktor yang menentukan bagaiman dampak TV bagi masyarakat adalah jenis acara yang disiarkan. Jika TV hanya menyiarkan acara bermutu dan memberikan informasi yang benar, maka TV bisa menjadi sarana yang efektif untuk mencerdaskan masyarakat. Sebaliknya, jika TV menayangkan tayangan–tayangan “sampah” yang berisi informasi menyesatkan, maka TV akan menjadi sarana pembodohan publik yang efaktif.PU_Media

Sangat disayangkan, ketika kita mencermati tayangan–tayangan yang disiarkan TV – TV Indonesia ternyata sebagian besarnya adalah tayangan “sampah”. Sebut saja sinetron yang hanya menjual ilusi kemewahan dengan dibumbui kedengkian bahkan tindak kriminal, lawakan tidak lucu yang mengedepankan kekerasan dan hinaan terhadap fisik seseorang sebagai materi lawakan, acara music yang menyuguhkan syair–syair kotor diiringi goyangan erotis, gossip, syirik, bahkan berita pun sering kali terlalu vulgar menggambarkan modus pelaku sehingga cenderung menginspirasi orang lain untuk melakukannya. Begitulah gambaran tayangan TV di negeri ini.

Banyak kalangan telah menyadari bahwa tayangan TV kita kurang berkualitas.Yang kurang disadari adalah kualitas tayangan TV berkaitan dengan kualitas masyarakat, bahkan keduanya saling mempengaruhi. Tayangan berkualitas rendah dapat terus tayang karena diminati masyarakat sehingga ratting-nya tinggi dan menjadi tambang uang bagi produsernya. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas masyarakat rendah sehingga meminati tayangan yang juga rendah kualitasnya. Di sisi lain jika masyarakat terus menerus disuguhi tayangan berkualitas rendah, maka kualitas masyarakat pun akan semakin memburuk karena TV dapat merangsang seluruh alat indera manusia sehingga dapat mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi, dan perasaan–perasaan penonton. Akibatnya, pesan–pesan yang disampaikan sangat mudah mempengaruhi emosional pemirsanya[3].

Salah satu pengaruh negatif tayangan TV yang sangat terasa telah menurunkan kualitas masyarakat (dari sudut pandang Islam) adalah adanya demonstrative effect. Sebagaimana dapat kita saksikan, potret kehidupan yang disuguhkan TV biasanya sengaja menonjolkan sisi hedonisme–liberal. Tayangan–tayangan tersebut tampak berupaya untuk membentuk persepsi masyarakat bahwa kehidupan yang umum terjadi adalah kehidupan seperti potret kehidupan yang ditayangkan TV, sebaliknya kehidupan yang berbeda dengan potret kehidupan tersebut dipersepsikan sebagai kehidupan yang tidak umum, kuno, dst. Dampaknya, dapat kita saksikan pergaulan semakin liar, gaya hidup semakin konsumtif, kekerasan semakin menjadi–jadi, dan pluralisme semakin dibanggakan di tengah masyarakat.

Melihat efek buruk ini, sebagian kalangan menunjuk hidung stasiun TV dan produser sebagai pihak yang bersalah karena hanya mementingkan keuntungan materi tanpa mempedulikan dampaknya terhadap masyarakat. Sepakat bahwa stasiun TV dan produser menyumbang kesalahan dan harus turut bertanggung jawab. Akan tetapi, keduanya bukanlah satu–satunya pihak yang bersalah. Menurut kacamata bisnis pengusaha yang hidup di bawah dominasi ideologi Kapitelisme adalah wajar jika profit adalah orientasi utama dan faktor selain profit dipinggir atau bahkan tidak diperhitungkan sama sekali. Pengusaha yang mendewakan profit bertemu dengan masyarakat bercorak Kapitalisme yang tengah diliputi kepenatan mengarungi kehidupan dan haus akan hiburan yang dapat melupakan sejenak kepenatan mereka. Klop lah sudah.

Masalah utamanya bukanlah orientasi bisnis stasiun TV dan produser melainkan ideologi Kapitalisme yang masih digenggam erat–erat oleh segenap kalangan di negeri ini. Kapitalisme inilah yang membuat seseorang mengagungkan kesenangan fisik dan cenderung egois, tak peduli apakah cara yang ditempuhnya untuk memperoleh kesenangan fisik berdampak buruk bagi orang lain atau tidak. Selama ideologi ini masih menguasai negeri ini, maka selamanya lingkara setan rendahnya kualitas tayangan TV dan rendahnya kualitas masyarakat tidak akan pernah terurai.

Maka, solusinya tak cukup hanya sebatas solusi individual batasi nonton TV atau sekadar menuntut pemerintah—yang juga bercorak Kapitalisme—untuk membuat aturan yang tegas agar stasiun TV hanya menayangkan tayangan yang bermutu. Kedua cara tersebut memang perlu ditempuh tetapi tidak cukup hanya dengan itu. Harus pula ditempuh cara yang dapat menyelesaikan permasalahan ini dari akarnya: mengubah ideologi di tengah masyarakat yang saat ini masih Kapitalisme menjadi ideologi Islam. Dengan demikian, masyarakat akan semakin cerdas memilih tayangan yang bermutu. Pun dengannya stasiun TV dan produser memiliki rasa “takut dosa” jika meracuni masyarakat dengan tayangan–tayangan tak bermutu. Dengannya pula pemerintah merasa bertanggung jawab penuh untuk melindungi masyarakat dari tayangan–tayangan sampah yang dapat merusak masyarakat.

Maka, jika benar kita muak dan prihatin atas buruknya kualitas tayangan TV, mari bersama kami mengkaji ideologi Islam sambil mengedukasi masyarakat dengan ideologi Islam.

 

Yogyakarta, 18 Jumadits Tsani 1435 H

Friday, April 18, 2014

11.07 p.m.

 

[1] Disampaikan dalam Kajian Umum Mingguan MHTI UGM Sabtu, 19 April 18, 2014

[2] Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Chapter UGM

[3] https://www.academia.edu/4879875/DAMPAK_MEDIA_TV_TERHADAP_PSIKOLOGI_MASYARAKAT (diakses tanggal 18 April pukul 20.42)

2 thoughts on “Membuang Tayangan “Sampah”[1]

  1. Salam kenal..
    Setuju sekali mbak. Sy termasuk korban televisi dulunya.🙂
    Karena sistim kapitalis, banyak manusia semakin terpuruk, bertolak belakang dengan Islam. Islam membangun peradaban manusia menuju kemuliaan.

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s