STOP Penyalahgunaan NARKOBA dengan Menerapkan ISLAM![1]

Khafidoh Kurniasih., S.Farm., Apt.[2]

 narkotik

Mengenal NARKOBA[3]

Kata NARKOBA (Narkotika dan Obat Berbahaya lainnya) mengacu pada narkotika, psikotropika dan senyawa lainnya yang berpotensi menyebabkan ketergantungan. Menurut Undang Undang Nomor 22 tahun 1997 Pasal 1, Narkotika didefinisikan sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Adapun gejala adanya dorongan untuk menggunakan narkotika secara terus menerus, toleransi dan gejala putus narkotika apabila penggunaan dihentikan disebut sebagai ketergantungan Narkotik.

Sedangkan tentang Psikotropika dijelaskan dalam UU Nomor 5 tahun 1997. Dalam PAsal 1 disebutkan bahwa Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika,  yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Akibat pengaruhnya pada susunan saraf pusat, penggunaan Psikotropika dapat menimbulkan kelainan perilaku yang disertai dengan halusinasi, ilusi, gangguan cara berfikir, dan lain–lain.

 

Penyalahgunaan NARKOBA

NARKOBA adalah benda. Tidak ada satu pun benda di alam ini yang tidak bermanfaat karena “Rabbanaa maa khalaqta hadzaa bathilaan”. Setiap benda di muka Bumi ini memiliki manfaat sekaligus berpotensi menimbulkan bahaya tergantung siapa, kapan, dan bagaimana benda itu digunakan. Demikian pula dengan NARKOBA. Jika digunakan oleh orang yang benar–benar membutuhkan, pada saat yang membutuhkan, dengan dosis yang dibutuhkan dan dalam pengawasan orang yang menguasai ilmunya, maka NARKOBA akan memberikan manfaat yang sangat besar. Sejumlah rasa sakit memerlukan penggunaan NARKOBA untuk meredakannya, misalnya sakit yang disebabkan oelh cancer, luka yang sangat parah, diabetic neuropathy, nyeri punggung yang sangat parah, dll[4]. Dan tak perlu khawatir karena selama pasien hanya menggunakannya untuk meredakan nyeri, maka sangat kecil kemungkinan mengalami ketergantungan[5].

Akan tetapi, jika digunakan tidak sebagaimana mestinya NARKOBA menjadi sangat berbahaya karena yang dipengaruhi adalah saraf pusat yang merupakan komponen akal, penentu kemampuan berfikir seseorang. Ketika akal seseorang sudah rusak, maka dia tidak akan dapat mengendalikan dirinya sendiri. Dia bisa melukai tubuhnya sendiri (bahkan ekstrimnya dia bisa mengambil darahnya sendiri yang mengandung morfin untuk disuntikkan kembali atau disuntikkan ke orang lain yang juga kecanduan1) tanpa dia sadari. Secara fisik, penyalahgunaan NARKOBA dapat mengakibatkan depresi, halusinasi, ansietas, stress, panik, dll[6].

Akibat mengalami halusinasi, seseorang bisa melakukan hal–hal yang memabhayakan dirinya maupun orang lain. Perkosaan, penganiayaan, bahkan pembunuhan bisa menjadi akibat dari halusinasi. Ditambah dengan gejala abstinensia seorang pecandu bisa nekat melakukan apa pun untuk bisa mendapatkan NARKOBA agar rasa sakit yang dia rasakan bisa reda, termasuk merampok. Itu dampak penyalahgunaan NARKOBA dari sudut pandang individual.

Jika dilihat dari sudut pandang kehidupan bernegara, maka lebih parah lagi. Sebuah negara yang marak terjadi penyalahgunaan NARKOBA akan kehilangan banyak pemuda–pemudanya untuk mmembangun negaranya. Alih–alih membangun negara, mereka justru menghancurkan negaranya sendiri salah satunya dengan aksi–aksi kriminal yang mereka lakukan di bawah kendali NARKOBA.

 

Sayangnya, Indonesia adalah salah satu negara yang banyak terjadi penyalahgunaan NARKOBA. Berdasarkan data BNN, pada tahun 2012 jumlah penyalahguna NARKOBA sekitar 4juta orang (+/– 2,8% jumlah penduduk) dengan 25%nya adalah pelajar dan mahasiswa[7]. Bahkan, menurut Direktur Diseminasi Informasi dari Deputi Bidang Pencegahan BNN, Gun Gun Siswadi, jumlah penyalahguna NARKOBA di Indonesia telah mencapai angka 5 juta. Data ini diperoleh dari survet yang dilakukan oleh BNN bekerjasama dengan UI. Dia menambahkan, saat ini Indonesia bukan lagi sebagai negara transit peredaran NARKOBA, tapi sudah menjadi pasar yang sangat menjanjikan bagi peredaran NARKOBA[8]. Prediksi ini didukung oleh fakta bahwa peredaran NARKOBA sangat terorganisasi dan 60–70% NARKOBA yang beredar di negeri ini berasal dari luar negeri. Hal ini dipaparkan oleh Sekjen DPP Gerakan Anti Narkoba (Granat) Brigjen pol (purn) H. Askar Subroto[9]. Peredaran gelap narkotika paling banyak masih berada di Jakarta dan diikuti dengan Jawa Barat, Jawa Timur. Hal ini diungkapkan oleh Kasi Media Tradisional Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN) Ahmad Soleh saat diskusi di Polsek Sawangan, Depok, Selasa (13/5/2014)[10].

 

Penyebab Tingginya Angka Penyalahgunaan NARKOBA

Tingginya angka penyalahgunaan NARKOBA tekah menjadi keresahan semua pihak yang peduli akan masa depan negeri ini. Mereka pun berupaya mencari tahu penyebabnya. Salah satu hal yang telah disadari oleh semua pihak adalah ringannya hukuman bagi para fasilitator penyalahgunaan NARKOBA (produsen, bandar, kurir, dkk) dan lemahnya penegakan hukum di negeri ini. Sabagai contoh, hingga Sabtu 17 Maret 2012 ada 11 terpidana mati Narkoba yang belum dieksekusi7. Sebelumnya publik juga dibuat heran sekaligus geram dengan pemberian kasasi yang mengakibatkan bebasnya fasilitator penyelagunaan NARKOBA, salah satu di antaranya adalah Corby, kurir NARKOBA asal Australia. Hal ini menyebabkan orang tidak takut berbisnis NARKOBA, apalagi bisnis ini menjanjikan keuntungan yang sangat besar.

Selain itu, paradigma yang tidak tepat dalam memandang penyalahguna NARKOBA apakah sebagai korban atau pelaku tindak kejahatan juga menyebabkan tingginya angka penyalahgunaan. Selama ini pemerintah menganggap penyalahguna sebagai korban, bukan sebagai pelaku kejahatan. Oleh karenanya, alih–alih dihukum karena telah merugikan orang lain, bahkan negera, mereka malah cenderung “dimanja” dengan dimasukkan ke panti rehabilitasi. Akibatnya, orang tidak akan takut menyalahgunakan NARKOBA karena merasa aman dari hukuman.

Kesalahan selanjutnya yang disebabkan oleh kesalahan paradigma ini adalah lahirnya solusi penanggulangan penyelahgunaa NARKOBA yang juga tidak tepat. Misalnya dengan terapi rumatan metadon. Bukannya menghentikan aktivitas perusakan akal tersebut, malah difasilitasi, hanya saja memang daya adiksinya lebih rendah, tapi tetap merusa akal. Ada juga “solusi” yang ngaco, yakni pembagian jarum suntik steril bagi penasun (Pengguna NARKOBA Suntik).

 

Solusi yang Benar

Islam adalah satu–satunya agama yang benar. Jika ingin mencari solusi yang benar, maka rujuklah pada Islam. “Islam adalah Solusi” demikian kata Hasan Al Bana –rahimahullah—.Islam memiliki solusi untuk segala macam persoalan di dunia, termasuk masalah NARKOBA.

Menyitir perkataan KH. Shiddiq Al Jawi[11] dalam tulisannya yang berjudul “Hukum Seputar NARKOBA dalam Fiqh Islam”, dalam khazanah fiqh kontemporer, NARKOBA disebut sebagai “al mukhaddirat”. Dikategorikan dalam fiqh kontemporer karena Narkoba adalah masalah baru, yang belum ada masa imam-imam mazhab yang empat. Narkoba baru muncul di Dunia Islam pada akhir abad ke-6 hijriyah. Meskipun perkara baru, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang keharamannya. Menurut beliau, NARKOBA diharamkan karena dua faktor: Pertama, ada nash yang mengharamkan NARKOBA, yakni hadits dari Ummu salamah RA bahwa Rasulullah SAW telah melarang dari segala sesuatu yang memabukkan (muskir) dan melemahkan (mufattir). (HR Ahmad, Abu Dawud no 3686). Yang dimaksud mufattir (tranquilizer), adalah zat yang menimbulkan rasa tenang/rileks (istirkha`) dan malas (tatsaqul) pada tubuh manusia. (Rawwas Qal’ahjie, Mu’jam Lughah Al Fuqoha`, hlm. 342). Kedua, karena menimbulkan bahaya (dharar) bagi manusia. Dalam fiqh, dikenal kaidah “Al ashlu fi al madhaar at tahrim” (hukum asal benda yang berbahaya [mudharat] adalah haram).

Berdasarkan hal tersebut, maka Islam memandang bahwa baik penyalahguna maupun fasilitator penyalahgunaan NARKOBA adalah pelaku tindak kejahatan yang harus diberikan sanksi. Penyalahguna NARKOBA itu bukan korban (kecuali jika istilah “korban” ini merujuk pada “korban sistem Kapitalistik Sekuler”) karena mereka dengan sadar menyalahgunakan NARKOBA tersebut. Bahkan mereka secara sadar mencari, membeli, mencuri, atau apa pun untuk mendapatkannya. Sanksi yang diberikan tentu saja berbeda, beradasarkan tingkat kejahatan yang mereka lakukan. Penyalahguna yang baru pertama kali, pecandu, kurir, bandar, dan produsen akan mendapatkan sanksi ta’dzir yang berbeda. Ta’dzir yang diberikan bahkan bisa sampai pada hukuman mati atau hukuman lain yang akan membuat jera pelakunya dan membuat orang lain ngeri sehingga tidak akan melakukan tindak kejahatan tsersebut.

Tentu saja pemberian hukuman yang tegas ini bukan satu–satunya “alat” yang dimiliki Islam untuk menghentikan penyalahgunaan NARKOBA. Itu hanyalah alat dari sisi kuratif. Islam juga memiliki “alat” untuk upaya preventif dan rehabilitative. Islam memiliki “alat” lainnya yaitu ketaqwaan yang akan mencegah tiap–tiap individu dari penyalahgunaan NARKOBA. Dalam kehidupan Islam, juga terdapat kontrol masyarakat yang kuat berupa budaya amar ma’ruf nahiy munkar yang akan meminimalkan dan mencegah anggota masyarakat melakukan tindak kejahatan apa pun.

Di samping itu, yang tidak boleh dilupakan adalah apa yang umumnya mendorong seseorang menyalahgunakan NARKOBA untuk pertama kalinya? Stress, putus asa karena himpitan ekonomi, putus cinta, broken home, dan sejenisnya. Islam yang diterapkan dalam seluruh asepek kehidupan, termasuk kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara akan sangat meminimalkan hal–hal tersebut sehingga dorongan untuk menyalahgunakan NARKOBA juga kan menjadi minimal. Bagaimana sistem bisa melahirkan kehidupan yang demikian? Mari, kaji lebih dalam bersama kami melalui halqah – halqah intensif bersama Hizbut Tahrir.

 

Yogyakarta, 22 Sya’ban 1435 H

Friday, June 20, 2014

12.48

 

[1] Disampaikan dalam Pengajian Umum Muslimah HTI Chapter UGM 21 Juni 2014

[2] Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir

[3] http://www.ut.ac.id/html/suplemen/peki4422/bag%203.htm (diakses tanggal 20 Juni 2014 pukul 9.38)

[4] Disimpulkan secara bebas dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1495025/ (diakses tanggal 20 Juni 2014 pukul 10.05)

[5] http://www.webmd.com/mental-health/addiction/painkillers-and-addiction-narcotic-abuse (diakses tanggal 20 Juni 2014 pukul 10.35)

[6] http://bnn-dki.com/index.php/aksi/berita-dari-kuningan/pemberdayaan-masyarakat/511-berbagai-dampak-yang-terjadi-akibat-penyalahgunaan-narkoba (diakses tanggal 20 Juni 2014 pkl 10.51)

[7] http://bnnpsulsel.com/pencegahan/peringatan-hari-anti-narkoba-internasional-hani-2013-di-istana-presiden-ri-tanggal-24-juni-2013/ (diakses tanggal 20 Juni 2014 pukul 11.22)

[8] http://news.okezone.com/read/2014/01/11/337/924893/bnn-peredaran-narkoba-sangat-mengkhawatirkan (diakses tanggal 20 Juni 2014 pukul 11.26)

[9] http://www.pikiran-rakyat.com/node/181169 (diakses tanggal 20 Juni 2014 pukul 7.50)

[10] http://jakarta.okezone.com/read/2014/05/13/500/984365/peredaran-narkotika-di-indonesia-semakin-massif (diakses tanggal 20 Juni 2014 pukul 11.34)

[11] http://hizbut-tahrir.or.id/2012/06/10/hukum-seputar-narkoba-dalam-fiqih-islam/ (diakses tanggal 20 Juni 2014 pukul 12.19)

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s