Nikah Mulia, Single Terhormat

Nikah Mulia, Single Terhormat

Momen hari raya seperti ini biasanya menjadi momen kumpul keluarga besar, melepas kerinduan sambil saling menanyakan kabar, berharap hanya kabar baik yang kita dengar dari saudara–saudari terkasih. Sayangnya sering kali ada “penumpang gelap” dalam tradisi mulia menyambung silaturahmi ini. Ya, sering kali momen silaturahmi keluarga besar ini menjadi ajang pamer para pasangan muda sekaligus ajang pem-bully-an bagi mereka yang masih single. Entah sengaja atau tidak, tetapi hal ini sering terjadi. Para pasangan muda merasa bangga telah menggandeng pasangan halalnya. Bahkan ada juga lho yang bangga menggandeng pasangan haramnya (pacar) tapi saya tidak ingin membahasnya. Sudah jelas haram. Di sisi lain banyak single yang merasa terganggu karena di-bully dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pernikahan.


Aaahh… tidak sadarkah mereka bahwa telah menikah bukanlah parameter kemuliaan dan / atau kesuksesan. Status telah menikah bukanlah suatu capaian kesuksesan yang layak dibanggakan, pun sebaliknya status single bukanlah suatu aib yang perlu disembunyikan apalagi diratapi. Seseorang yang telah menikah bisa meraih derajad kemulian, juga bisa menjadi hina di hadapan Rabbnya. Pun sebaliknya, seseorang yang masih single bisa menjadi mulia atau menjadi hina di hadapan Tuhannya. Yang menentukan mulia atau hinanya adalah bagaimana mereka “memperoleh” dan menyikapi status tersebut.
Benar bahwa menikah adalah menggenapkan separuh dien. Benar bahwa hukum asal menikah adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Benar bahwa kelak di hari kiamat Rasul akan membanggakan besarnya jumlah ummatnya, yang salah satu cara mewujudkannya adalah dengan memperbanyak anak dan tentu saja hal ini harus diawali dengan pernikahan. Semua itu adalah benar tapi tidak lantas mereka yang sudah menikah berhak merasa lebih mulia daripada para single karena merasa telah menggenapkan separuh agama, merasa telah melaksanakan sunnah dan merasa telah memulai upaya mewujudkan kebanggaan Rasul di hari kiamat kelak.
Benarkah mereka yang telah menikah lebih mulia atau lebih hebat daripada yang masih single? Kemuliaan dan kehebatan seseorang dinilai dari seberapa taat dia pada syari’at–NYA. Pantaskah merasa lebih mulia jika pernikahan itu diawali dengan pacaran atau pacaran berkedok ta’aruf atau ta’aruf yang dinodai berkali–kali interaksi yang berlebihan? Pantaskah merasa hebat jika dalam resepsi pernikahan yang digelar terjadi banyak pelanggaran hukum syara’: tamu laki – laki dan perempuan saling berbaur, mempelai putri bertabarruj, resepsi yang menabrak waktu shalat sehingga menyebabkan pemilik hajat dan para tamu terlambat shalat? Hebatkah itu? Pantaskah merasa mulia jika pernikahan itu membuat sang suami berkurang baktinya pada sang bunda? Habatkah jika pernikahan membuat sang suami lebih sibuk ternak teri (anter anak & anter istri) daripada melakukan kontak da’wah? Layak berbangga kah jika pernikahan membuat sang istri menelantarkan amanahnya membina ummat dan membina halqah?
Jika pernikahan kita benar–benar dijalani melalui proses yang syar’i tanpa dinodai “pseudo pacaran”, maka bersyukurlah dan bantu binaan–binaan kita, sahabat–sahabat kita untuk menjalani proses yang sama sucinya dengan proses yang kita jalani. Tak perlu ujub. Ingatlah bahwa semua itu adalah karunia dari ALLAH kita dan pasangan kita mampu menjaga kesucian proses itu. Jika resepsi pernikahan kita betul–betul syar’i tanpa pelanggaran hukum syara’ setitik pun, maka bertahmidlah, sujud syukurlah dan kuatkan saudara–saudari kita agar mereka mampu menggelar resepsi pernikahan sebaik resepsi kita. Jika pasca pernikahan hubungan kita dengan orang tua kandung dan mertua tetap baik bahkan semakin baik, maka jangan berhenti bersyukur. Jika pernikahan semakin menguatkan da’wah kita dan pasangan kita, maka syukurilah. Jika pernikahan membuat kita dan pasangan kita semakin bertambah ilmunya, maka bersyukurlah tanpa perlu membanggakan diri.
Tapiiii…. jika ternyata pernikahan itu diawali dengan pacaran berkedok ta’aruf, resepsi yang sarat pelanggaran hukum syara’ lagi melalaikan, melemahkan da’wah, merenggangkan hubungan anak dan orang tuanya, bahkan dalam pernikahan itu sendiri banyak hukum syara’ yang dilanggar, maka itu sama sekali tidak mulia, tidak hebat! Bahkan, mohon maaf itu adalah sebuah kehinaan! Jika itu yang terjadi, tentu saja para single yang menjaga dirinya lebih mulia. Setidaknya para seingle itu tidak melakukan dosa pacaran, tidak terkena dosa tabarruj, tidak memfasilitasi ikhthilath, tidak membuat orang–orang melalaikan shalat, tidak merenggangkan silaturahmi, tidak melemahkan pengemban da’wah, dan serentetan pelanggaran hukum syara’ yang terjadi akibat pernikahan yang tidak baik.
Benar bahwa dalam proses menuju pernikahan ada serangkaian perjuangan yang perlu diapresiasi. Misalnya: meletakkan malu pada tempatnya. Sungguh berat memang mengikis malu ketika meminta untuk dicarikan sesosok pasangan shalih/ah terutama bagi perempuan. Apalagi saat meminta sesosok shalih/ah untuk menikahi/dinikahi. Sungguh, menundukkan malu pada hukum syara’ pada saat itu adalah sesuatu yang berat. Atau saat berupaya meyakinkan orang tua bahwa kita telah layak dan siap menikah, atau meyakinkan orang tua dan calon mertua untuk merestui pernikahan kita dan calon pasangan juga dalam negoisasi–negoisasi berbagai permasalahan menjelang pernikahan. Di dalamnya memang terdapat perjuangan yang berat dan layak diapresiasi.
Tapiiiii….. sudahkah kita memastikan para single itu belum menjalani perjuangan itu? Tanpa kita ketahui, mungkin saat ini mereka tengah dengan sangat berat menundukkan rasa malunya untuk meminta dicarikan sosok shalih/ah. Mungkin dia pernah benar –benar membuang malunya untuk meminta dinikahi sesosok shalih tapi kemudian ALLAH belum menghendaki dia dan sesosok shalih itu berpasangan lalu menyisakan luka yang sangat perih. Mungkin dia pernah dengan berdarah–darah meyakinkan orang tuanya tentang kelayakan sosok shalih/ah pilihannya tapi ALLAH belum berkehendak melunakkan hati orang tuanya lalu menorehkan luka yang begitu dalam di hatinya. Pernahkah Anda menyaksikan seseorang yang diputus nafkahnya dan diancam tidak akan dihadiri prosesi wisudanya hanya gara–gara dia berupaya meyakinkan orang tuanya tentang kelayakan sesosok shalih/ah pilihannya?
Jika kita mengetahui kisah–kisah itu, masih tegakah kita mem-bully para single itu? Benar, kita tidak akan pernah tahu perjuangan mereka, karena perjuangan itu memang selayaknya ditutup rapat–rapat, bukan menjadi konsumsi umum. Cukup dirinya, ALLAH dan orang–orang yang berkepentingan sajalah yang boleh tahu demi—meminjam istilah Tere Liye—menjaga kehormatan perasaannya. Maka, tak perlu lah iseng bertanya “Ayo lah… tunggu apalagi sih? Koq ga nikah–nikah?!” atau yang semakna.
Oh iya, benar mereka yang memilih menikah pada usia muda patut diapresiasi karena berani mengambil risiko pernikahan sejak dini. Tetapi mereka yang berani tetap memilih single hingga usia matang sambil tetap menjaga kehormatan diri dan perasaannya daripada harus menjalani pernikahan yang “sembarangaan” (misal: proses menuju pernikahan yang tidak syar’i, menikah dengan orang yang tidak shalih/ah, dsb) juga perlu diapresiasi.

Tegal, 3 Syawwal 1435 H
Wednesday, July 30, 2014
2.29 p.m.

Ditulis oleh seorang istri, bukan seorang single yang sedang membela diri
Haafizhah Kurniasih

Untuk para single, tetaplah menjadi single terhormat. Tak perlu risaukan omongan orang. Jawab saja pertanyaan–pertanyaan para bullier itu dengan santai sembari minta didoakan.
Tulisan ini hanya ditujukan untuk membela para single terhormat. Single yang menjaga kehormatannya. Single yang memilih single demi tegaknya hukum syara’, misalnya memilih bercerai daripada mempertahankan pernikahan yang tidak memungkinkan tegaknya suatu hukum syara’ bahkan meniscayakan terjadinya pelanggarab hukum syara’ secara terus menerus (saya berlindung kepada ALLAH dari pernikahan yang demikian, semoga kita tidak perlu mengalaminya).

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s