Kerudung dan Pekerjaan, Sebuah Pilihankah?

Kerudung dan Pekerjaan, Sebuah Pilihankah?Muslimah pink

Tak jarang kita mendengar seorang karyawati dilarang menggunakan kerudung ketika bekerja. Berita ini tentu saja mengundang respon berupa kemarahan ummat Islam, apalagi jika kejadian tersebut terjadi di negeri ini. Tentu saja alasan kemarahan tersebut adalah karena pelarangan berkerudung bagi karyawati sama halnya dengan perintah kemaksiyatan. Sebuah kemunkaran yang nyata–nyata harus dilawan. Bukankah “Barangsiapa melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangnnya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya dan jika (tetap) tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya. Dan itulah selemah – lemah iman”?

Jika kita bukan penguasa yang bisa menindak kepala departemen apa pun atau pengusaha mana pun yang melarang karyawatinya berkerudung dengan tangan kekuasaan kita…

Jika kita bukan pula pimpinan perusahan yang bisa memecat siapa pun di perusahaan kita yang melarang karyawati kita berkerudung dengan tangan kekuasaan kita…

Setidaknya kita masih punya lisan dan tulisan untuk membangun opini umum dan memberikan semacam “tekanan publik” kepada mereka yang melarang karyawatinya berkerudung. Itulah makna kemarahan masyarakat.

Bagaimana denga sekadar membenci kebijakan tersebut dalam hati? Ya boleh sih… tapi itu dikatakan sebagai selemah–lemahnya iman. Bagaimana perasaan Anda jika saya berkata pada Anda “Imanmu koq lemah banget sih?”. Ya kalau Anda terima dibilang seperti itu—dan itu bukan saya yang bilang—ya, silakan saja cukup membenci dalam hati.

Jika yang membanci dalam hati saja dikatakan selemah – lemahnya iman alias punya iman sih tapi tipiiiiiiiiis banget. Lalu bagaimana dengan yang cuek tak peduli apalagi menyalahkan para karyawati tanpa empati? Misalnya dengan berkata “Kalau memang karyawati tersebut ingin berkerudung karena mematuhi Rabbnya, memahami bahwa menutup aurat adalah kewajiban agama baginya, maka seharusnya dia juga tahu bahwa bekerja bagi perempuan hanyalah sebuah kemubahan, sementara menutup aurat adalah kewajiban. Jika dia mau taat pada agamanya, ya sudah tinggalkan pekerjaannya. Yang mubah tidak boleh mengalahkan yang wajib.”

Benar bahwa bekerja bagi seorang perempuan hukum asalnya adalah mubah karena pada dasarnya selalu ada pihak yang berkewajiban menafkahi seorang perempuan. Jika single, maka ada ayah, saudara laki–laki atau kakeknya yang harus menafkahinya. Jika sudah menikah, maka suami atau anak laki–lakinya yang telah baligh berkewajiban menafkahinya. Jika semua laki – laki yang berkewajiban menafkahinya tidak mampu menafkahinya, maka nafkah perempuan tersebut ditanggung oleh negara. Begitulah Islam menggariskan.

Benar bahwa menutup aurat adalah sebuah kewajiban yang tak bisa ditawar–tawar. Silakan tanyakan pada Ustadz /ah terdekat tentang bagaimana hukum dan tatacara menutup aurat yang benar menurut QS. An Nuur: 31, QS. Al Ahzab: 59 dan hadits–hadits Rasul.

Benar juga bahwa sesuatu yang wajib harus didahulukan dari yang lain, apalagi sekadar mubah. Kemubahan tidak boleh mengalahkan kewajiban. Betul sekali. Demikianlah Islam mengajarkan tentang prioritas.

Tapiiii… mari kita renungkan lebih dalam…

Bayangkan jika semua perempuan utamanya Muslimah (ingat, bahwa di negeri ini Islam adalah agama mayoritas) memilih untuk berdiam di rumah, tak mau bekerja di sektor publik. Bu Bidan pun digantikan Pak Bidan. Meskipun dalam kaca mata hukum syara’ boleh–boleh saja melahirkan dibantu laki – laki, tapi saya yakin mereka yang memahami skala prioritas—yang dengannya mereka mempersilakan para perempuan resign dari pekerjaannya di sektor publik—pasti lebih memilih dirinya atau istrinya melahirkan dibantu Bu Bidan daripada Pak Bidan. Dan kini ketika mereka tengah menyediakan waktu dan energi mereka untuk membantu Anda (atau istri Anda), mereka dihadapkan pada pilihan antara kewajiban menutup aurat vs kewajiban membantu saudarinya karena mereka “sudah terlanjur” memiliki ilmu yang dibutuhkan untuk membantu Anda (atau istri Anda). Sementara itu Anda yang dibantu, maka cuek atau bahkan secara tidak langsung menyalahkan pilihan mereka?

Ooo… jadi Anda mau urusan Anda (atau istri Anda) dibantu oleh tenaga professional Muslimah tapi di saat yang sama kita mencibir para Muslimah yang berupaya untuk menjadi professional agar dapat membantu urusan Anda (atau istri Anda)? Ya Shalihiin wa Shalihaat…, sejak kapan agama ini memperbolehkan kita menyakiti orang–orang yang tengah membantu kita?

Eh, bukankah tindak kriminal juga sering melibatkan perempuan? Perlu juga dunk petugas keamanan perempuan?

Untuk pekerjaan yang memang harus dilakukan oleh perempuan, silakan saja tapi untuk pekerjaan yang lain seperti pelayan toko, akuntan, dsb kembalikan ke hukum asalnya dunk: hanya mubah! Kalau mubah berhadapan dengan wajib, tinggalkan yang mubah. Itu tuntunan hukum syara’” à Anda Benar! Pintar sekali… Alhamdulillah….

Pada paragraph ini, izinkan saya bicara hanya pada perempuan, pembaca laki–laki silakan bayangkan Anda sebagai seorang perempuan J

Ya Shalihaat, benar bahwa dalam Islam kita tidak akan pernah berkewajiban menafkahi diri sendiri (apalagi orang lain) karena selalu ada pihak yang berkewajiban untuk menafkahi kita seperti yang telah kita bahas di atas. Tapi… apakah semua laki–laki memahami dan menyadarinya? Lalu negara? Hanya Khilafah yang memahami konsep itu, Shalihaat… Negara Kapitalis Demokrasi macam Indonesia ini mana paham konsep nafkah bafi perempuan ini?! Ah…, kau pun sering membaca dan mendengar berita tentang suami tidak tahu diri yang malah menggantungkan hidupnya pada istri. Coba tengok tetanggamu, barangkali ada di antara mereka si perempuan sulung yang dengan perkasanya harus membiayai hidup adik–adiknya (perempuan dan laki–laki) karena orang tuanya telah udzur atau bahkan telah tiada. Belum lagi para single parent Mommy yang mau tidak mau harus menghidupi anak–anak yatimnya.

Perempuan–perempuan itu, meski secara hukum syara’ mereka sama sekali tidak wajib mencari nafkah, bahkan wajib dinafkahi tapi keadaan “mewajibkan” dirinya untuk mencari nafkah jika mereka tak mau mati kelaparan. Memilih jenis pekerjaan yang memang harus dikerjakan oleh perempuan? Itu butuh kompetensi khusus, Dear… Bahkan seringkali membutuhkan kualifikasi pendidikan yang tidak mudah dimiliki.

Bagi mereka, mendapatkan pekerjaan yang mampu mereka kerjakan dengan halal saja sudah sangat bersyukur. Ah, Anda pun pasti tahu betapa persaingan mendapatkan pekerjaan sungguh sangat ketat. Pun persaingan dalam berwirausaha tidak mudah. Maka, pekerjaan apa pun yang halal akan mereka kerjakan demi menyambung hidupnya dan orang–orang yang “terpaksa” harus mereka tanggung. Dan ketika pekerjaan halal itu telah mereka dapatkan, mereka dihadapkan pada pilihan sulit: kewajiban vs kebutuhan?

Shalihaat, dunia ini tak seideal yang ada dalam khayalan kita…

Jika kita terlahir dari keluarga kaya nan mengerti agama sehingga orang tua tak pernah ribut menuntut kita untuk bekerja selepas kuliah, maka bersyukurlah… Tapi ingat di luar sana ada begitu banyak saudari kita yang lahir dan dibesarkan oleh orang tua yang belum memahami bahwa perempuan sama sekali tidak wajib bekerja. Ada banyak orang tua yang menganggap aib jika putrinya tidak bekerja setelah selesai kuliah. Bahkan ada yang terlahir dari keluarga penuh keterbatasan. Jangankan kuliah, untuk menyelesaikan pendidikan dasar 9 tahun pun ngos–ngosan. Mereka pun terpaksa harus bekerja dengan kompetensi yang dimilikinya, yang belum tentu bisa memilih pekerjaan yang memang harus dikerjakan oleh perempuan.

Jika kita memiliki suami yang bertanggung jawab, mengerti agama, dan dikarunia rizqi yang berlimpah, maka bertahmidlah…Tapi sadarilah di luar sana ada begitu banyak saudari kita yang tidak seberuntung kita yang terpaksa harus ikut bekerja agar dapat bisa tetap ngebul dan anak bisa sekolah di sekolah berkualitas….

Berhentilah dari keegoisan itu! Mulailah peduli. Bukankah itu tuntutan aqidah? Tidak sempurna iman kita jika kita mencintai saudara/i kita sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri….🙂

 

Yogyakarta, 6 Dzul Qa’dah 1435 H

Monday, September 01, 2014

9.29 p.m.

 

Haafizhah Kurniasih

Alhamdulillaah tidak pernah dihadapkan pada pilihan antara kewajiban membantu vs kewajiban menutup aurat, apalagi kewajiban vs kebutuhan.

Alhamdulillah masih bisa mengaplikasikan ilmu “yang terlanjur dimiliki” tanpa mengorbankan apa pun…🙂

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s