Ketika Manisnya Gula Berbuah Pahitnya Hidup…

Ketika Manisnya Gula Berbuah Pahitnya Hidup

StrawberryShortcakeMasih ingat iklan produk makanan (semisal sirup atau makanan manis lainnya) yang dengan bangganya mengklaim “…dengan gula asli tanpa pemanis buatan” atau “terbuat dari 100% gula asli”? Masih ingat pulakah dengan “nasihat” untuk menghindari pemanis buatan, yang sering kali saking berlebihannya seolah menganggap pemanis buatan itu racun mematikan? Dari satu sudut pandang, penggunaan gula asli bisa menjadi nilai tambah bagi sebuah produk yang dengannya dibangun persepsi bahwa wajar jika produk tersebut dijual dengan harga lebih tinggi.

Akan tetapi, seiring dengan semakin banyaknya penderita Diabetes Mellitus (DM), kegemukan, hingga berkembangnya opini umum bahwa cantik itu langsing (bahkan cenderung kurus kerempeng), maka muncullah iklan tandingannya yang dengan bangga mengklaim “Sugar Free, Zero Calorie”. Dengan olah kata yang cerdik, produsennya pun berhasil membangun opini bahwa bebas gula adalah keunggulan produk tersebut sehingga layak dijual dengan harga yang lebih tinggi. Silakan jalan – jalan ke pasar, warung, atau swalayan dan amati harga produk makanan. Biasanya produk yang mengklaim “Sugar Free” dibandrol dengan harga lebih tinggi daripada produk sejenis.

Lalu mana yang sebaiknya kita konsumsi? Yang terbuat dari 100% gula asli atau yang bebas gula? Pertanyaan sulit. Untuk menjawabnya, harus diketahui terlebih dahulu bagaimana keadaan tubuh kita, pola makan, kebutuhan energi, serta tujuan kita makan/minum. Diri kitalah yang paling mengetahui hal–hal tersebut. Maka, mari kita mulai dengan mengenal gula dan pemanis buatan.

Gula “Asli”

Yang biasanya dimaksud dengan gula asli atau pemanis alami dalam makanan adalah sukrosa, suatu senyawa karbohidrat sederhana. Sukrosa ini bisa berupa gula pasir (dari tebu), gula aren, gula bit, dll. Sukrosa bisa dengan mudah terurai menjadi glukosa dan fruktosa. Glukosa ini lah yang berfungsi sebagai sumber energi bagi sel. Oleh karenanya, makanan yang mengandung banyak gula disifati sebagai makanan tinggi kalori (kalori adalah satuan energi). Tiap gram gula memberikan energi sekitar 17 kJ. Jika tidak digunakan, glukosa ini akan disimpan dalam bentuk glikogen, bisa juga disimpan dalam bentuk lemak. Semakin banyak aktivitas fisik yang kita lakukan, semakin banyak pula glukosa yang kita perlukan. Kalau kita lihat para petani penggarap, abang becak, dan kuli bangunan sering sekali minum teh manis di samping porsi nasinya yang besar dan mereka tampak sehat, itu karena asupan glukosa mereka sebanding dengan kebutuhan energi mereka yang memang besar.

Sebaliknya, jika aktivitas fisik kita sedikit, cenderung lebih banyak duduk atau malah tiduran, maka kebutuhan glukosa kita sedikit. Sebaiknya batasi konsumsi gula asli jika tidak ingin menambah berat badan. Atau jika asupan gula melebihi kapasitas insulin dalam memproses glukosa, maka akan berakibat pada DM. Apalagi kalau memang sudah menderita atau memiliki faktor risiko DM. Bahkan, bagi sebagian penderita DM yang kadar glukosa darahnya sangat tinggi, gula asli bagaikan racun yang sangat berbahaya.

Pemanis Buatan

Yang dimaksud pemanis buatan dalam tulisan ini (atau yang selanjutnya disebut sebagai “pemanis” saja) adalah segala sesuatu selain gula yang memberikan rasa manis. Karena rasanya yang manis, pemanis sering digunakan sebagai pengganti gula. Berdasarkan potensinya untuk memberikan rasa manis, pemanis dikelompokkan ke dalam intense sweetener dan bulk sweetener (maaf, saya belum tahu padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia). Dalam jumlah yang sangat sedikit, intense sweetener dapat memberikan rasa manis yang setara dengan sejumlah besar gula. Sebagian orang menyebut intense sweetener dengan sebutan artificial sweetener atau pemanis sintetik. Contoh dari pemanis sintetik ini misalnya aspartame, siklamat, sucralose, dll. Meskipun sangat manis, pemanis sintetik ini bisa dikatakan nyaris tidak memberikan energi sama sekali. Untuk menunjukkan sisi ini sebagai kelebihan, produsen biasa mengklaim “rendah kalori” atau bahkan “zero calorie”. Produk–produk tersebut biasanya ditujukan untuk penderita DM atau mereka yang sedang diet untuk mencegah kenaikan berat badan tetapi ingin tetap menikmati makanan manis. Contoh produk yang menggunakan pemanis sintetik ini misalnya Tropicana Slim (menggunakan aspartame).

Adapun bulk sweetener adalah senyawa selain gula yang dapat memberikan rasa manis dengan takaran yang tidak jauh berbeda dengan gula. Dengan kata lain memiliki level kemanisan yang mirip dengan gula (sukrosa). Bulk sweetener biasa digunakan dalam es krim, cake, roti, dll. Beberapa alasan digunakannya pemanis ini daripada gula misalnya untuk menghindari terjadinya karamelisasi atau menurunkan titik beku es krim. Produk untuk diet juga menggunakan bulk sweetener karena pemanis ini tidak menambah kebutuhan insulin. Pemanis jenis ini memberikan energi yang tidak jauh berbeda dari gula, yaitu sekitar 10kJ/g. Sisi kurang menyenangkan dari penggunaan bulk sweetener adalah adanya efek laksatif (murus–murus) pada penggunaan berlebih. Contoh pemanis jenis ini antara lain sorbitol, manitol, dan xylitol.
Mari kita berkenalan sepintas dengan pemanis buatan ini….
Screenshot 2014-09-21 09.00.57
Aspartame

Aspartame atau yang dikenal juga dengan kode E951 adalah pemanis sintetik yang tersusun atas fenilalanin dan asam aspartat yang teresterifikasi dengan metanol. Keduanya adalah asam amino penyusun protein. Asam Aspartat juga merupakan senyawa penghantar pada sistem saraf (neuro transmitter). Aspartame memiliki level kemanisan seiktar 180–200 kali lebih kuat daripada gula (sukrosa). Aspartame memiliki sifat–sifat intense sweetener sehingga banyak digunakan dalam produk–produk diet rendah kalori serta produk yang menyasar pasar penderita DM. Keunggulan aspartame dibanding pemanis lain dalam kelas yang sama adalah karena dia memberikan rasa yang sangat mirip dengan gula tanpa rasa pahit. Selain itu, aspartame juga menguatkan cita rasa buah. Contoh merek dagang yang menggunakan aspartame misalnya Equal, Nutrasweet dan Tropicana Slim.

Aspartame tidak stabil pada pemanasan sehingga tidak cocok untuk membuat roti atau untuk memasak. Aspartame juga tidak stabil dalam larutan berair dan akan berubah menjadi diketopiperazine (DKP) yang berakibat pada berkurangnya rasa manis. EU’s Scientific Committee on Food (SCF) merekomendasikan batas aman konsumsi aspartame perhari (ADI: Acceptable Daily Intake) sebesar kurang dari 40 mg/kg BB. Karena aspartame mengandung fenilalanin, maka penderita fenilketonuria tidak boleh mengkonsumsinya.

Siklamat

Yang disebut siklamat sebenarnya adalah tiga senyawa berbeda, yaitu asam siklamat, kalsium siklamat, dan natrium siklamat. Ketiga senyawa tersebut disebut sebagai siklamat saja atau kode E952. Sebenarnya, jika dibandingkan dengan intense sweetener yang lain, tingkat kemanisan siklamat relatif rendah. Akan tetapi, jika dikombinasikan dengan pemanis yang lain, level kemanisannya akan meningkat tajam. Siklamat biasa dikombinasikan dengan sakarin. Di sejumlah negara siklamat telah dilarang digunakan dalam makanan karena dicurigai ada hubungannya tumor kandung kemih. Maka, kita cukupkan dulu perkenalan kita dengan siklamat ya….

Sakarin

Sakarin bersama dengan natrium sakarin, kalsium sakarin, dan kalium sakarin diberi kode E954. Sakarin masuk ke kategori intense sweetener sama seperti aspartame. Sakarin memiliki tingkat kemanisan yang jauh lebih kuat dari pada aspartame, yaitu sekitar 300–500 kali lebih kuat daripada gula. Pun sakarin sangat rendah kalori. Akan tetapi, sayangnya sakarin memberikan “after taste” yang sedikit pahit. Sakarin tidak dimetabolisme dalam tubuh manusia sehingga relatif aman untuk dikonsumsi. ADI yang dissarankan untuk ssakarin adalah di bawah 5mg/kgBB/hari.

Manitol

Manitol alias mannite atau yang dikenal dengan kode E421 adalah salah satu bulk sweetener yang mudah larut dalam air. Manitol kurang manis dibandingkan dengan gula. Level kemanisannya hanya sekitar 0.7 dari kemanisan gula. Manitol sangat sedikit diabsorbsi sehingga memiliki efek laksatif yang cukup kuat. Pada dosis 10–20 gram manitol per hari dilaporkan dapat menimbulkan efek laksatif.

Sorbitol

Sorbitol atau E420 memiliki level kemanisan yang mirip dengan gula. Dia akan menimbulkan efek laksatif jika dikonsumsi lebih dari 50g per hari.

Xylitol

Xylitol alias E967 memiliki tingkat kemanisan yang sama dengan gul dan akan berefek laksatif jika dikonsumsi lebih dari 50 g per hari.

Demikianlah sedikit perkenalan kita dengan pemanis. Baik pemanis alami maupun pemanis buatan. So, pilih mana yang terbuat dari gula asli atau yang berpemanis? Anda bisa memilihnya berdasarkan keadaan diri Anda dan kebutuhan Anda… Selamat makan… mari nikmati manisnya makanan tapi jangan sampai berbuah pahitnya hidup… 

Yogyakarta, 19 Dzul Qa’dah 1435 H
Sunday, September 21, 2014
4.46 p.m.

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s