Perempuan, Bekerjalah! (?)

Perempuan, Bekerjalah! (?)

Bekerja dan berpenghasilan telah menjadi keinginan sekaligus kebutuhan sebagian besar perempuan: single, istri, ibu, bahkan nenek. Tak heran jika hampir di setiap sektor dapat dengan mudah kita temui para pekerja perempuan. Beragam motivasi yang mendasari seorang perempuan berkeinginan atau bahkan merasa butuh bekerja. Seringkali bukan hanya karena dorongan dari dalam dirinya saja tetapi juga dorongan bahkan tekanan dari masyarakat ikut memaksa perempuan bekerja. “Sarjana koq nganggur?”, “Punya gelar Magister koq cuma momong anak? Sayang sekali…”, “Percuma sudah sekolah tinggi–tinggi kalau akhirnya cuma minta uang dari suami” adalah sebagian kecil dari banyak tekanan yang dilakukan oleh masyarakat agar para perempuan bekerja.

Ada pula nasihat pranikah yang selalu disampaikan “Perempuan itu harus tetap bekerja meskipun pengahasilan suami cukup agar tidak bergantung pada suami….”. Kelanjutan dari nasihat tersebut beragam. Para feminis melanjutkan dengan “…sehingga punya nilai tawar yang tinggi di hadapan suami, suami tidak mudah melecehkanmu dan akan berfikir 1000 kali jika akan mencampakkanmu. Pun jika suami menyakitimu (KDRT misalnya), kamu bisa dengan mudah mengakhiri penderitaanmu dan tidak perlu bingung dengan kehidupan pasca perpisahan. Salah satu faktor yang membuat perempuan terjebak dalam KDRT adalah karena dia tidak berani mengambil keputusan untuk berpisah karena tidak mempunyai sumber penghasilan. Maka bekerjalah, berpenghasilanlah!”. Masyarakat awam melanjutkan nasihat tsb dengan “…sehingga kalau menginginkan sesuatu tidak perlu menunggu suami. Bisa beli ini itu, belanja sesuai keinginan tanpa perlu merasa khawatir diomeli suami karena toh itu uangmu sendiri.” Bahkan yang Islami pun ikut memberikan nasihat serupa dengan lanjutan “…sehingga kalau suatu ketika suamimu sakit atau bahkan meninggal lebih dulu, kamu tetap bisa melanjutkan kehidupanmu dan anak–anakmu dengan layak. Anak–anakmu tidak perlu terlantar meski telah yatim.”. Baik yang feminis, awam, maupun yang Islami semuanya kompak mendorong para perempuan untuk bekerja, berpenghasilan meski motivasinya berbeda.

Haruskah Perempuan Bekerja?

Ketika seorang perempuan bekerja sebenarnya tidak melulu untuk berpenghasilan apalagi jika dikaitkan dengan menafkahi diri dan keluarganya. Berpenghasilan untuk menafkahi diri dan keluarganya hanyalah salah satu dari banyak motivasi perempuan bekerja. Selain tentang nafkah, ada perempuan bekerja yang samata karena dorongan eksistensi diri. Tidak bisa dipungkiri ada perempuan yang senang berinteraksi dengan beragam jenis manusia, dan salah satu jalan yang memungkinkannya berinteraksi dengan beragam jenis manusia adalah dengan bekerja. Meski bisa juga ditempuh dengan menjadi aktivis di lembaga tertentu, aktif arisan, dll. Ada yang hobby mengembangkan harta. Ada pula yang memang ilmunya dibutuhkan oleh masyarakat sehingga dia bekerja atas dorongan melakukan aktivitas fardhu kifayah memenuhi kebutuhan masyarakat akan ahli di bidang tersebut. Akan tetapi, dalam tulisan ini saya pembatasi pembahasan perempuan bererja dalam kaitannya dengan berpenghasilan dan nafkah, tidak melebar ke yang lain (kecuali disebutkan lain).

Dalam keadaan bagaimana pun, perempuan tidak pernah dibebani kewajiban bekerja untuk menafkahi dirinya sendiri apalagi keluarganya, tidak pernah. Selalu ada pihak yang berkewajiban menafkahi seorang perempuan. Tugas utama seorang perempuan adalah memberikan pendidikan terbaik bagi putra–putinya dan menciptakan suasana keluarga yang kondusif. Perempuan tidak perlu direpotkan dengan urusan nafkah. Laki–lakilah yang berkewajiban mencukupi segala biaya yang diperlukan agar perempuan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Begitulah yang Islam gariskan. Tetapi sayangnya, saat ini masyarakat jauh dari pemahaman Islam. Tidak banyak yang paham dan mau mengamalkan bahwa jika seorang perempuan ditinggalkan suaminya (entah karena bercerai atau meninggal dunia), maka nafkahnya menjadi kewajiban anak laki–lakinya yang telah baligh (jika ada), atau ayahnya (jika masih mampu), atau saudara laki–lakinya, atau walinya yang lain. Jika tidak ada wali yang mampu menafkahinya, maka diserahkan kepada negara untuk menafkahinya. Meski demikian, bukan berarti perempuan tidak boleh bekerja, berpenghasilan dan memberikan hartanya untuk membiayai kebutuhan keluarga. Boleh saja dan statusnya adalah shadaqah.

Namun sekarang perempuan dan masyarakat seolah sama–sama lupa bahwa bekerja bagi seorang perempuan hanyalah sebuah kebolehan. Boleh artinya baik yang memilih bekerja maupun yang memilih untuk tidak bekerja harus sama–sama dihormati, tidak boleh dicibir. Sama seperti meski kita memilih roti keju bukan berarti kita boleh mencibir mereka yang memilih roti cokelat. Sekarang sepertinya masyarakat telah menganggap bekerja juga adalah kewajiban bagi seorang perempuan, bukan sebatas kebolehan, pilihan. Cibiran–cibiran terus mengalir pada perempuan–perempuan yang memilih untuk tidak bekerja. Bahkan tak jarang suami yang merendahkan istrinya karena tidak bekerja dan menganggapnya benalu, lalu muncullah KDRT. Ada pula mertua yang menganggap hina menantu perempuannya karena dia tidak bekerja.

Harga diri yang terluka itulah yang menjadi salah atu faktor pendorong—bahkan pendorong terkuat—bagi sebagian perempuan bekerja. Dengan motivasi seperti ini, maka wajar jika keluarnya perempuan bekerja menjadi pemicu konflik rumah tangga. Wajar jika penghasilan perempuan berbanding terbalik dengan keharmonisan keluarganya. Dengan berpenghasilan perempuan merasa punya kedudukan yang sama dengan suami, “Anda berpenghasilan, saya juga berpenghasilan. Kita sama! Tidak ada yang jadi pemimpin dan yang dipimpin!” bahkan jika penghasilan perempuan lebih besar dari suaminya, dia akan berpikir “Penghasilan saya lebih besar, maka saya lebih layak mengendalikan keluarga ini!”. Akhirnya, tidak ada lagi keharmonisan keluarga karena perempuan tidak lagi taat pada suami sedangkan pada saat yang sama ketidaktaatan istri melukai harga diri suami dan mendorongnya untuk “unjuk kekuasaan”. Konflik bahkan perpecahan keluarga pun tak dapat dihindari. Inilah bahaya terbesar ketika para perempuan keluar untuk bekerja dengan motivasi yang salah: Kehancuran keluarga yang berkonsekuensi pada kehancuran generasi.

Namun, banyak juga perempuan yang terpaksa bekerja untuk menjawab realitas. Relaitas bahwa para walinya tidak memahami kewajiban mereka untuk menafkahinya. Pun nagara tak peduli dengan nasib para perempuan yang ditinggalkan penanggung nafkahnya. Maka para perempuan itu harus bersiap sedini mungkin jika suatu saat ditinggalkan suami atau ayahnya (bagi yang belum menikah) agar tidak perlu mengalami masa “collapse” secara keuangan karena kehilangan penanggung nafkah. Sedangkan kematian penanggung nafkah adalah sesuatu yang pasti tetapi tidak diketahui kapan datangnya. Mengharapkan negara menanggung nafkahnya? Aah…, mimpi! Kita sama–sama tahu negara berhaluan Kapitalisme ini bertindak bagaikan pedagang terhadap rakyatnya. Maka, wajar jika salah satu nasihat pranikah yang selalu diberikan adalah “Bekerjalah untuk mengantisipasi segala kemungkinan!”. Keluarnya perempuan untuk bekerja dengan alasan ini pun megandung potensi bahaya: penelantaran kewajibannya untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putra–putrinya karena konsentrasinya terpecah antara mendidik dan bekerja.

Betul, kita tidak bisa menutup mata dan menyaksikan realitas bahwa dengan semakin banyaknya perempuan Muslimah keluar untuk bekerja—apalagi dengan motivasi yang keliru—semakin banyak anak–anak Islam yang tidak terbina dengan baik. Jelas ini adalah sebuah permasalahan. Akan tetapi tidak selayaknya kita serta merta melarang perempuan bekerja karena persoalan sebenarnya bukanlah tentang perempuan bekerja atau tidak bekerja. Bekerjanya perempuan melahirkan berbagai persoalan baru karena berangkat dari dorongan pemikirian yang keliru. Pemikiran keliru ini pun berkembang karena disuburkan oleh sistem kehidupan yang salah, yang jauh dari Islam, yang lahir dari Kapitalisme. Kapitalisme akan selalu memproduksi dan mengembangkan pemikiran–pemikiran baru yang keliru untuk menghancurkan keluarga Muslim dan menyibukkan ummat sehingga semakin jauh dari gambaran kehidupan Islam yang ideal.

Musuh pemikiran kita banyak dan akan semakin banyak karena terus diproduksi oleh musuh ideologis kita. Maka, fokuslah untuk menghancurkan Kapitalisme sebagai musuh ideologis dan jangan terkecoh dengan musuh–musuh pemikirian yang akan terus direproduksi.

Tegal, 13 Jumadil Awwal 1436
March 4, 2015
6.20 p.m.

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s