Obat Harapan Bangsa?

Obat Harapan Bangsa?

Pagi tadi di sela–sela melayani pasien, salesman serta collector saya teringat ada produk baru dari supplier baru di Herbal Corner Apotek yang belum saya baca secara teliti. Beberapa hari lalu ketika produk tersebut datang, saya dengan banyak urusan. Pun karena salesnya baru, dia ribet sendiri, bingung bagaimana caranya menuliskan faktur sehingga Apoteker Pendamping saya pun malah sibuk mengajari sales tersebut hingga akhirnya lupa meneliti produknya. Maka, pagi tadi begitu teringat, saya langsung menuju Herbal Corner mencari produk tersebut. Dan… ah, benar saja ada masalah di kemasannya. Eh, lebih tepatnya klaim yang tertulis di kemasannya.

Klaim yang tertulis di kemasan salah satu produk herbal

Klaim yang tertulis di kemasan salah satu produk herbal

Ada apa dengan kemasannya? Silakan lihat gambar. Di sana tertulis bahwa produk tersebut memiliki manfaat untuk MENGOBATI KANKER SERVIK, KISTA, LEUKIMIA, TUMOR, TEKANAN DARAH TINGGI, DAN LAINNYA. Woow…, produk harapan bangsa nih kalau klaimnya benar. Monggo ditebak, produk apakah ini yang sepertinya membawa angin surga bagi kita? Ternyata hanya teh daun sirsak. Tapi di komposisinya tidak tertulis “daun teh (Camellia sinensis folium)”. Lha…, kan saya jadi bingung, katanya teh tapi koq mana tehnya? Jangan–jangan itu bacanya harus dengan logat Sunda nih “Ini teh Daun Sirsak…” Hehehe…

Sebelum saya bercerita lebih lanjut, saya ingin menyatakan bahwa saat ini saya sedang tidak tertarik membahas tentang regulasi apa yang boleh dan apa yang tidak boleh tertulis dalam kemasan maupun flier suatu produk farmasi. Saya diajari oleh guru–guru saya bahwa mematuhi peraturan administratif itu penting, tetapi jauh lebih penting lagi memahami maksud dan tujuan peraturan tersebut. Regulasi dalam bidang farmasi dibuat untuk keamanan dan keselamatan bersama, terutama untuk melindungi kesehatan masyarakat. Jadi, hal inilah yang akan menjadi focus saya: apakah isi klaim tersebut membahayakan masyarakat atau tidak. Saat ini saya sedang tidak begitu peduli dengan peraturan administratif. STOP! Jangan melebar! Apa yang saya katakan dalam paragraf ini hanya berlaku untuk peraturan teknis administratif saja, tidak untuk peraturan lainnya, apalagi syariat. Kalau syariat, mau paham atau tidak paham tujuannya, patuhi saja.

Kembali ke masalah klaim produk di atas. Klaim tersebut tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak bisa dibenarkan. Untuk saat ini mari kita bahas tentang klaim menyembuhkan kanker serviks, kista, leukemia, dan tumor dulu ya.. Kita abaikan dulu klaim hipertensinya karena terus terang yang sudah pernah saya baca dan diskusikan baru sebatas kaitan antara daun sirsak dan kelainan pertumbuhan sel. Saya belum dapat ilmunya sama sekali tentang kaitan antara sirsak dan hipertensi.

Memang benar, banyak penelitian di dalam dan luar negeri telah membuktikan bahwa daun ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L.)mengandung senyawa asetogenin, saponin, flavonoid, dan alkaloid. Sejumlah penelitian pun telah membuktikan bahwa senyawa asetogenin memiliki aktivitas sitotoksik (bersifat racun terhadap sel). Aktivitas sitotoksik inilah yang kemudian diharapkan dapat membunuh sel kanker. Pak Muhartono dan teman–temannya di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (Unila) pada 1 Mei–10 September 2013telah melakukan penelitian tentang efek kemoterapi ekstrak etanol daun sirsak pada kanker payudara tikus putih. Beliau dan timnya berkesimpulan bahwa pemberian ekstrak etanol daun sirsak secara per oral (melalui mulut alias dimakan/diminum) dengan dosis 100mg/kgBB dan 400mg/kgBB dapat menginduksi proses apoptosis sel (kematian sel secara terencana) pada kanker payudara tikus putih. Akan tetapi, hasil penelitian beliau juga menunjukkan bahwa dosis 200mg/kgBB malah belum mampu menginduksi proses apoptosis ini. Nah lhoo…

Terus, yang disebutkan memiliki aktivitas sitotoksik adalah ekstrak etanol. Apakah ekstrak etanol sama dengan ekstrak airnya? Saya belum tahu. Banyak kasus ekstrak etanol dan ektrak air itu berbeda aktivitasnya. Lalu, bagaimanakah efek panas terhadap asetogenin? Lagi–lagi, saya belum tahu. Belum belajar tentang asetogenin lebih jauh. Belum lagi, berapa jumlah asetogenin yang akan terminum? Cukupkah untuk menginduksi proses apoptosis tersebut? Atau justru berlebih? Lalu, seberapa selektifkah asetogenin ini untuk hanya membunuh sel kanker tanpa mengusik sel normal? Kalau diminum orang sehat tanpa kanker, bagaimana? Itu beberapa pertanyaan (dan masih banyak pertanyaan lain) yang harus terjawab sebelum kita boleh mengklaim bahwa teh daun sirsak dapat mengobati kanker. Terlalu terburu–buru dan gegabah jika kita berani mengklaim teh daun sirsak dapat mengobati kanker dan kawan–kawannya sebelum mampu menguraikan pertanyaan–pertanyaan tersebut.

Analoginya begini, batu bata adalah salah satu komponen penting untuk membangun rumah. Rumah tersebut nantinya dapat melindungi penghuninya dari sengatan panas matahari, dinginnya udara malam, hembusan angin, hingga tetesan hujan. Bagaimana pendapat Anda jika saya mengatakan “batu bata melindungi Anda dari sengatan panas matahari, dinginnya udara malam, hembusan angin, hingga tetesan hujan”? Layakkah perkataan saya tersebut diamini? Tentu saja tidak karena kita masih harus membahas berapa jumlah batu bata yang diperlukan, bagaimana batu bata tersebut harus disusun, bagaimana merekatkan batu bata yang satu dengan lainnya, dll. Jika kita ngasal, maka batu bata tersebut bukan saja menjadi tidak berguna bahkan bisa membahayakan. Misal sejumlah batu bata disusun tanpa perekat tanpa desain yang memadai, terus kita berlindung di bawahnya. Yang ada bukannya terlindung malah celaka karena tertimpa batu bata yang roboh.
Saudara – Saudari…, pernahkah Anda mengalami penyakit yang berat dan / atau mendampingi orang terdekat Anda yang mengalami penyakit berat? Pada saat itu, masihkah Anda bisa berfikir jernih tentang apa yang seharusnya Anda lakukan? Hebat jika Anda masih bisa berfikir jernih pada saat–saat seperti itu. Pada umumnya, pasien dan keluarga terdekat pasien sulit untuk berfikir jernih pada saat rasa penyakit itu terasa sangat berat dan menyakitkan. Segala ucapan orang tentang sesuatu yang menjanjikan dapat menyembuhkan penyakit, akan dicoba. Dari yang masih masuk akal hingga yang ngaco bahkan membahayakan akidah pun dilakukan. Buktinya pengobatan alternatif berbau klenik selalu ramai. Masih ingat kasus Guntur Bumi (kabarnya sekarang dia sudah bertaubat, doakan saja)? Kasus Ponari Sweat?

Di sini lah letak bahayanya over claim tersebut. Bagaimana jika ada pasien kanker yang karena bosannya menahan sakit plus lelah menjalani pengobatan konvensional lalu tergiur dengan klaim berlebihan tersebut? Dia menghentikan pengobatan konvensionalnya yang telah mapan berdasarkan bukti (evidence based) dan beralih ke produk tsb? Dapatkah Anda bayangkan akibatnya? Kasus seperti ini sangat banyak terjadi. Bukan hanya pasien kanker tapi juga diabetes mellitus, hipertensi, gangguan ginjal, dan penyakit–penyakit kronis lainnya. Hasil akhirnya? Keadaan mereka memburuk, bahkan menemui ajal melaui penyakitnya tersebut. Lalu siapa yang akan bertanggung jawab?
Yogyakarta, 24 Jumadits Tsaniy 1436 H

Monday, April 13, 2015
11.12 p.m.

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s