Obat Harapan Bangsa?

Obat Harapan Bangsa?

Pagi tadi di sela–sela melayani pasien, salesman serta collector saya teringat ada produk baru dari supplier baru di Herbal Corner Apotek yang belum saya baca secara teliti. Beberapa hari lalu ketika produk tersebut datang, saya dengan banyak urusan. Pun karena salesnya baru, dia ribet sendiri, bingung bagaimana caranya menuliskan faktur sehingga Apoteker Pendamping saya pun malah sibuk mengajari sales tersebut hingga akhirnya lupa meneliti produknya. Maka, pagi tadi begitu teringat, saya langsung menuju Herbal Corner mencari produk tersebut. Dan… ah, benar saja ada masalah di kemasannya. Eh, lebih tepatnya klaim yang tertulis di kemasannya.

Klaim yang tertulis di kemasan salah satu produk herbal

Klaim yang tertulis di kemasan salah satu produk herbal

Continue reading

Perempuan, Bekerjalah! (?)

Perempuan, Bekerjalah! (?)

Bekerja dan berpenghasilan telah menjadi keinginan sekaligus kebutuhan sebagian besar perempuan: single, istri, ibu, bahkan nenek. Tak heran jika hampir di setiap sektor dapat dengan mudah kita temui para pekerja perempuan. Beragam motivasi yang mendasari seorang perempuan berkeinginan atau bahkan merasa butuh bekerja. Seringkali bukan hanya karena dorongan dari dalam dirinya saja tetapi juga dorongan bahkan tekanan dari masyarakat ikut memaksa perempuan bekerja. “Sarjana koq nganggur?”, “Punya gelar Magister koq cuma momong anak? Sayang sekali…”, “Percuma sudah sekolah tinggi–tinggi kalau akhirnya cuma minta uang dari suami” adalah sebagian kecil dari banyak tekanan yang dilakukan oleh masyarakat agar para perempuan bekerja. Continue reading

Ketika Manisnya Gula Berbuah Pahitnya Hidup…

Ketika Manisnya Gula Berbuah Pahitnya Hidup

StrawberryShortcakeMasih ingat iklan produk makanan (semisal sirup atau makanan manis lainnya) yang dengan bangganya mengklaim “…dengan gula asli tanpa pemanis buatan” atau “terbuat dari 100% gula asli”? Masih ingat pulakah dengan “nasihat” untuk menghindari pemanis buatan, yang sering kali saking berlebihannya seolah menganggap pemanis buatan itu racun mematikan? Dari satu sudut pandang, penggunaan gula asli bisa menjadi nilai tambah bagi sebuah produk yang dengannya dibangun persepsi bahwa wajar jika produk tersebut dijual dengan harga lebih tinggi. Continue reading

Menonton para Pendekar

Menonton Para Pendekar

“Ketika pendekar dengan pendekar bertarung, maka yang bukan pendekar harap tahu diri: cukup nonton saja. Silakan jika ingin memberikan yel–yel dukungan kepada pendekar jagoannya tapi jangan sampai menghina dina atau mengolok–olok pendekar lainnya! Sadar kapasitas diri bukan oendekar!”

Pertama kali saya membaca nasihat semakna dengan itu beberapa bulan lalu di status Facebook seorang Musyrif (Pembina halqah–pen.). Tanpa menunggu waktu lama, saya pun membubuhkan jempol saya di sana. Tepat sekali nasihat itu…. Continue reading

Kerudung dan Pekerjaan, Sebuah Pilihankah?

Kerudung dan Pekerjaan, Sebuah Pilihankah?Muslimah pink

Tak jarang kita mendengar seorang karyawati dilarang menggunakan kerudung ketika bekerja. Berita ini tentu saja mengundang respon berupa kemarahan ummat Islam, apalagi jika kejadian tersebut terjadi di negeri ini. Tentu saja alasan kemarahan tersebut adalah karena pelarangan berkerudung bagi karyawati sama halnya dengan perintah kemaksiyatan. Sebuah kemunkaran yang nyata–nyata harus dilawan. Bukankah “Barangsiapa melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangnnya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya dan jika (tetap) tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya. Dan itulah selemah – lemah iman”? Continue reading

Nikah Mulia, Single Terhormat

Nikah Mulia, Single Terhormat

Momen hari raya seperti ini biasanya menjadi momen kumpul keluarga besar, melepas kerinduan sambil saling menanyakan kabar, berharap hanya kabar baik yang kita dengar dari saudara–saudari terkasih. Sayangnya sering kali ada “penumpang gelap” dalam tradisi mulia menyambung silaturahmi ini. Ya, sering kali momen silaturahmi keluarga besar ini menjadi ajang pamer para pasangan muda sekaligus ajang pem-bully-an bagi mereka yang masih single. Entah sengaja atau tidak, tetapi hal ini sering terjadi. Para pasangan muda merasa bangga telah menggandeng pasangan halalnya. Bahkan ada juga lho yang bangga menggandeng pasangan haramnya (pacar) tapi saya tidak ingin membahasnya. Sudah jelas haram. Di sisi lain banyak single yang merasa terganggu karena di-bully dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pernikahan.

Continue reading

STOP Penyalahgunaan NARKOBA dengan Menerapkan ISLAM![1]

Khafidoh Kurniasih., S.Farm., Apt.[2]

 narkotik

Mengenal NARKOBA[3]

Kata NARKOBA (Narkotika dan Obat Berbahaya lainnya) mengacu pada narkotika, psikotropika dan senyawa lainnya yang berpotensi menyebabkan ketergantungan. Menurut Undang Undang Nomor 22 tahun 1997 Pasal 1, Narkotika didefinisikan sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Adapun gejala adanya dorongan untuk menggunakan narkotika secara terus menerus, toleransi dan gejala putus narkotika apabila penggunaan dihentikan disebut sebagai ketergantungan Narkotik. Continue reading

Membuang Tayangan “Sampah”[1]

 

Khafidoh Kurniasih., S.Farm., Apt.[2]

??????????? ????????Saat ini Televisi (TV) seolah telah menjelma menjadi sebuah benda ajaib yang dapat kita temui di setiap tempat. Di rumah, di ruang tunggu tempat pelayanan umum (RS, Puskesmas, Bank, dll), di alat transportasi missal, bahkan di pinggir jalan pun seringkali TV dapat kita jumpai. Selain mudah ditemui, TV juga dapat diakses 24 jam dengan pilihan stasiun TV yang beragam. Tak bisa dipungkiri, keberadaan TV dengan keadaannya yang demikian membuat masyarakat mudah mengakses masyarakat. Bahkan TV menjadi sumber informasi utama bagi sebagian orang yang tidak punya cukup banyak waktu untuk membaca dan kurang terampil menggunakan internet. Continue reading

Kekacauan dalam JKN: Tak Semata Masalah Teknis[1]

Khafidoh Kurniasih., S.Farm., Apt.[2]

1414944_10200776037962531_1405335540_oGenap tiga bulan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berjalan. Namun janji manis pemerintah untuk memberikan pelayanan kesehatan berkualitas bagi semua tak kunjung terwujud. Justru yang terjadi adalah kekacauan demi kekacauan dalam penyelenggaraan layanan kesehatan. Antrean pasien yang panjang, prosedur yang berbelit, tunggakan pada Rumah Sakit yang mengancam kebangkrutan[3] hingga perlakuan pada tenaga kesehatan yang kurang manusiawi. Continue reading